Tangga Viral di Puncak Bogor Ternyata Menuju Vila Bersejarah, Pernah Jadi Coffee House era Soekarno!
JAKARTA, iNews.id – Pernah melintas di jalur Puncak dan melihat tangga panjang yang menanjak dari tepi jalan, lalu menghilang di balik pepohonan? Ada cerita menarik di balik tangga viral tersebut.
Belakangan, tangga tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah foto di media sosial memicu rasa penasaran warganet. Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya ada apa di balik tangga yang tampak seperti menuju bangunan tersembunyi itu.
Pertanyaan tersebut muncul setelah akun X @Ccookk_ mengunggah foto tangga di kawasan Riung Gunung, Puncak, Kabupaten Bogor.
"Di atas ini sebenarnya apa dah? Puncak Bogor, Jawa Barat," tulis akun tersebut, dikutip Rabu (12/8/2026).
Unggahan itu pun mengundang beragam dugaan. Ada yang menyebut tangga tersebut mengarah ke vila lama, bangunan terbengkalai, hingga tempat bersejarah yang sudah lama tidak digunakan.
Namun, ternyata tangga tersebut memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Di balik pepohonan di atas tangga itu berdiri Vila Riung Gunung, bangunan yang memiliki kaitan dengan sejarah Indonesia dan kawasan Puncak.
Vila Riung Gunung Dibangun pada Era Soekarno
Vila Riung Gunung dibangun sekitar 1955–1957. Bangunan tersebut disebut menjadi salah satu tempat Soekarno, presiden pertama Indonesia, beristirahat ketika berada di kawasan Puncak.
Jejak keterkaitan tersebut bahkan masih dapat ditemukan melalui prasasti yang berada di bangunan vila. Prasasti tersebut mencatat bahwa pembangunan vila dilakukan di bawah pimpinan Soekarno dengan Soedarsono sebagai arsiteknya.
Cerita mengenai Soekarno yang singgah dan beristirahat di Riung Gunung juga telah lama hidup di tengah masyarakat sekitar.
Namun, sejarah vila ini tidak berhenti pada masa kepemimpinan Soekarno. Memasuki dekade 1960-an, Riung Gunung justru dikenal sebagai Riung Gunung Coffee House.
Dulu Ada Coffee House di Atas Tangga Itu
Bayangkan suasana perjalanan Jakarta-Bandung pada era 1960-an. Jalur Puncak belum seramai sekarang. Setelah melewati jalan berkelok di antara perbukitan, pengendara tiba di kawasan Riung Gunung.
Di tepi jalan terdapat sebuah tangga panjang yang mengarah ke bangunan di atas bukit. Setelah menaiki tangga tersebut, pengunjung dapat menikmati kopi sekaligus pemandangan pegunungan.
Tempat itulah yang dikenal sebagai Riung Gunung Coffee House.
Pada masa tersebut, Vila Riung Gunung dioperasikan oleh Hotel Indonesia sebagai coffee house.
Pengalaman mengunjungi tempat itu pada era 1960-an masih diingat Kuki Nasution, warga Bogor yang pernah datang ke Riung Gunung.
"Iya, saya pernah mengunjungi Riung Gunung. Karena saya orang Bogor, jaraknya ke Puncak tidak terlalu jauh. Pada waktu itu belum banyak kafe atau restoran yang bagus, jadi saya suka banget suasananya. Enak banget. Banyak tanaman di dalam restorannya. Penataannya bahkan sudah terasa seperti restoran masa kini, homey, cozy, dan hangat," ujar Kuki.
Menariknya, Riung Gunung Coffee House ternyata bukan sekadar tempat makan atau beristirahat bagi wisatawan. Tempat tersebut juga pernah menjadi bagian dari sejumlah kunjungan penting.
Pernah Dikunjungi Pangeran Kamboja hingga Perdana Menteri Jepang
Pada Januari 1964, arsip yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kunjungan Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja bersama istrinya ke Riung Gunung. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Soekarno.
Pada tahun yang sama, Riung Gunung kembali muncul dalam dokumentasi kegiatan yang berkaitan dengan persiapan Konferensi Asia-Afrika II. Salah satu dokumentasi mencatat kegiatan rehat kopi di tempat tersebut.
Tiga tahun kemudian, pada Oktober 1967, Riung Gunung kembali menjadi bagian dari agenda kunjungan kenegaraan.
Kali ini, Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato bersama istrinya mengunjungi tempat tersebut dalam rangkaian perjalanan mereka di Indonesia.
Artinya, tempat yang kini justru membuat warganet penasaran karena sebuah tangga ternyata pernah menjadi lokasi yang dikunjungi sejumlah tokoh penting pada masanya.
Dari Coffee House Jadi Vila Privat
Memasuki awal 1970-an, fungsi Riung Gunung berubah. Tempat tersebut tidak lagi digunakan sebagai coffee house dan kemudian lebih dikenal sebagai vila privat dengan akses yang terbatas.
Perlahan, aktivitas yang sebelumnya membuat kawasan itu ramai mulai menghilang.
Bangunan di atas bukit pun semakin tertutup pepohonan. Dari jalan raya, yang tersisa dan mudah terlihat hanyalah tangga panjang yang seolah membawa siapa pun menuju tempat misterius di balik rimbunnya tanaman.
Cerita mengenai Riung Gunung akhirnya lebih banyak bertahan melalui ingatan orang-orang yang pernah datang, foto-foto lama, serta berbagai catatan sejarah.
Salah satunya adalah Wiwin Trinarti, dosen Program Studi Arab FIB UI yang pernah mengunjungi Riung Gunung pada dekade 1980-an.
"Saya pernah dua kali ke sana, salah satunya pada tahun 1983 untuk kegiatan inisiasi mahasiswa baru Program Studi Arab UI. Sejak awal, kami sudah diingatkan untuk tidak menggunakan tangga Riung Gunung karena kondisinya kurang terawat," ujar Wiwin.
Menurutnya, keberadaan tangga dan akses menuju kawasan tersebut sebenarnya menyimpan potensi untuk kembali dimanfaatkan.
"Ke depan, saya berharap tangga dan jembatan tersebut dapat kembali digunakan. Pastinya harus melibatkan pihak-pihak yang betul-betul tahu tentang konstruksinya, agar bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, tapi juga tidak kehilangan nilai historisnya," katanya.





