Karhutla Gunung Bromo Hanguskan 520 Hektare Lahan, Diduga Dipicu Perapian Warga
PROBOLINGGO, iNews.id – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menerjang kawasan Kaldera Gunung Bromo di empat kabupaten (Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang) diduga bukan disebabkan faktor alam, melainkan kelalaian manusia. Memasuki sepekan penanganan, kobaran api hingga Senin (10/8/2026) pagi masih terpantau di dua titik utama, yakni Puncak P29 dan Kawasan Pananjakan.
Berdasarkan data terkini, total area vegetasi yang terdampak dan hangus terbakar di kawasan konservasi tersebut diperkirakan telah mencapai 520 hektare.
Dugaan kelalaian manusia ini menguat setelah petugas mengidentifikasi awal mula munculnya titik api, yakni berada di sekitar jalur tradisional yang kerap dilalui warga di Puncak Tebing Desa Argosari dan Ranupane, Kabupaten Lumajang.
Kondisi cuaca dingin ekstrem di area pegunungan disinyalir memicu warga atau pelintas jalur tersebut membuat perapian (diang) untuk menghangatkan tubuh, namun lupa mematikan kobaran apinya secara sempurna saat ditinggalkan.
Kombinasi cuaca terik di siang hari, angin kencang, serta akumulasi vegetasi savana dan semak belukar yang mengering membuat percikan api dengan cepat membesar dan menyebar luas. Kendati demikian, petugas memastikan insiden ini murni akibat kelalaian dan bukan tindakan kesengajaan.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, saat ini prioritas utama tim gabungan adalah melakukan pembasahan serta pemadaman total di titik-titik rawan.
"Fokus utama kami saat ini masih sepenuhnya pada upaya pemadaman dan lokalisir pergerakan api agar tidak semakin meluas," ujar Rudijanta Tjahja Nugraha.
TNBTS bersama aparat kepolisian setempat belum melangkah ke tahap investigasi proses hukum terkait penyebab pasti kebakaran lantaran seluruh personel masih dikerahkan di lapangan untuk menjinakkan si jago merah.










