Kapolres Mimika Buru Para Pelaku Pembunuhan di Kwamki Narama: Tak Ada Toleransi
MIMIKA, iNews.id - Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak menegaskan akan memburu seluruh pelaku pembunuhan di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Polisi tidak akan memberikan toleransi terhadap pihak yang terbukti terlibat.
Korban berinisial JW, warga kelompok Dang, ditemukan meninggal dunia di Jalan Maleo atau kawasan Jembatan Kayu, perbatasan wilayah kelompok Dang dan Niwigalen, Sabtu (1/8/2026) malam.
Berdasarkan informasi awal kepolisian, korban diduga berada dalam pengaruh alkohol dan membawa sebilah parang ketika mendatangi wilayah kelompok Niwigalen. Korban kemudian diduga diserang menggunakan anak panah oleh warga dari kelompok tersebut.
Identitas pelaku hingga kini masih dalam penyelidikan. Polisi terus mengumpulkan barang bukti dan keterangan untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat.
“Saya tidak negosiasi-negosiasi. Saya akan tangkap pelakunya. Saya tidak ada toleransi masalah pembunuhan. Tidak ada alasan begitu,” ujar Alredo saat jumpa pers di Mako Polres Mimika, Mile 32, Minggu (2/8/2026).
Informasi mengenai kejadian itu diterima polisi sekitar pukul 19.20 WIT dari Giman Magai, anggota Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Tengah Pokja Agama, melalui Kapolsek setempat.
Personel piket langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal dan mengamankan tempat kejadian perkara. Saat ditemukan, korban mengalami sejumlah luka akibat anak panah.
Pelapor berinisial AW bersama keluarga korban kemudian mendatangi Mapolsek dan meminta bantuan untuk mengevakuasi jenazah ke RSUD Mimika.
Personel gabungan Polres Mimika dan Polsek setempat selanjutnya melakukan olah TKP. Tim tersebut terdiri atas personel Inafis, Satintelkam, Satsabhara, dan Polsek Kwamki Lama.
Petugas mencari barang bukti serta mengumpulkan keterangan di sekitar lokasi kejadian. Setelah proses olah TKP selesai, jenazah JW dievakuasi ke RSUD Mimika untuk menjalani pemeriksaan medis dan autopsi.
Kapolres menilai kondisi korban menunjukkan adanya tindakan kekerasan yang sangat brutal. Dia memastikan seluruh pihak yang terlibat akan diproses hukum.
“Kalau kamu lihat korbannya itu dibunuh seperti biadab. Sampai puluhan panah. Berarti ada kekejian di sana dan saya tidak akan toleransi. Saya akan tangkap semua pelakunya,” katanya.
AKBP Alredo meminta keluarga korban dan masyarakat tidak melakukan aksi balas dendam maupun main hakim sendiri. Dia menilai kekerasan antarkelompok tidak akan selesai apabila terus dibalas dengan tindakan serupa.
“Saya minta masyarakat yang ada di pihak korban jangan mengambil tindakan sendiri. Sudah terlalu lama kalian berperang, buat apa lagi? Percayakan sama kami polisi,” ujarnya.
Dia menegaskan proses penegakan hukum menjadi tanggung jawab kepolisian. Masyarakat diminta memberikan kesempatan kepada penyidik untuk mengungkap kasus tersebut.
“Kalian tidak usah bertindak sendiri, kami yang akan tangkap. Saya tidak toleransi seperti ini. Tidak ada main hakim sendiri. Ini negara hukum,” katanya.
Kapolres juga mengajak masyarakat menyelesaikan setiap perselisihan melalui mekanisme hukum. Menurutnya, kebiasaan maupun alasan adat tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan.
“Kalau kita mau maju, ikuti aturan hukum. Tidak ada istilah ‘kita orang Papua, adat begitu’. Tidak ada. Kekerasan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujarnya.
Polisi belum mengumumkan jumlah pelaku yang diduga terlibat maupun penetapan tersangka. Penyelidikan masih dilakukan dengan memeriksa bukti dan keterangan para saksi.
“Saya selaku Kapolres tegaskan, saya akan tangkap pelaku itu. Ingat itu,” kata Kapolres.









