Harga Pertamax Turun, Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tak akan Naik

Harga Pertamax Turun, Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tak akan Naik

Terkini | inews | Senin, 3 Agustus 2026 - 13:53
share

JAKARTA, iNews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meski kondisi geopolitik global masih berpotensi memengaruhi harga energi dunia. Menurut Bahlil, harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, memang mengikuti mekanisme pasar dan disesuaikan dengan perkembangan harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP).

"Ya kan saya dari awal katakan bahwa menyangkut dengan BBM yang nonsubsidi itu harganya itu kan memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP," ujar Bahlil usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Dia menjelaskan ketika harga minyak dunia turun, harga BBM nonsubsidi juga akan terkoreksi. Sebaliknya, harga BBM nonsubsidi berpotensi naik apabila harga minyak mentah melonjak.

"Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik. Dan sekarang kan lagi turun. Dan kemudian badan usaha swasta melakukan koreksi terhadap penurunan harga itu. Nah sekarang kan lagi turun kan," katanya.

Mulai 1 Agustus 2026, pemerintah bersama badan usaha telah menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Harga Pertamax Turbo turun menjadi Rp18.300 per liter, Pertamax Green 95 menjadi Rp16.600 per liter, sedangkan Pertamax (RON 92) menjadi Rp15.950 per liter.

Saat ditanya mengenai kemungkinan harga BBM nonsubsidi kembali naik apabila konflik geopolitik memicu lonjakan harga minyak dunia, Bahlil menegaskan hal tersebut sepenuhnya bergantung pada kondisi pasar internasional.

"Ya tergantung kondisi geopolitik dunia," ucapnya.

Meski demikian, Bahlil memastikan masyarakat pengguna BBM bersubsidi tidak perlu khawatir karena pemerintah berkomitmen mempertahankan harga Pertalite dan Solar subsidi.

"Tapi yang penting gini lho, yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting," tegasnya.

Menurut Bahlil, sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional berasal dari BBM bersubsidi, sementara BBM nonsubsidi hanya digunakan sekitar 20 persen masyarakat yang dinilai memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

"Itu kan bagi yang mampu, bagi saudara-saudara kita yang mampu gitu lho. Tapi kalau yang 80 persen itu tetap menjadi bagian yang ditanggung jawab oleh pemerintah yaitu subsidi," pungkasnya.

Topik Menarik