Pengusaha Mal Waspadai Lonjakan Harga Barang, Dipicu Biaya Logistik Naik hingga Rupiah Melemah
JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memperkirakan harga berbagai produk ritel berpotensi mengalami kenaikan pada kuartal IV 2026. Lonjakan dipicu meningkatnya biaya energi, logistik, harga bahan baku, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada biaya produksi, terutama untuk barang impor.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, potensi kenaikan harga diperkirakan mulai terasa menjelang musim belanja akhir tahun. Menurutnya, kuartal IV menjadi periode ketika peritel mulai mempersiapkan stok dalam jumlah besar untuk menghadapi Natal dan Tahun Baru yang kemudian disusul Imlek, Ramadan dan Idulfitri pada awal 2027.
"Kuartal IV merupakan awal dari peak season kedua setelah Ramadan dan Idulfitri. Para peritel harus menyiapkan stok jauh-jauh hari untuk menghadapi Natal, Tahun Baru, Imlek, hingga Ramadan. Barang-barang tersebut diproduksi dengan biaya yang sudah meningkat karena harga energi, logistik, dan bahan baku naik," ujar Alphonzus di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Dia menjelaskan, kenaikan harga diperkirakan belum akan terlihat pada kuartal III karena sebagian besar pelaku ritel masih menjual stok lama yang diproduksi dengan biaya yang lebih rendah.
"Potensi kenaikan harga lebih besar terjadi pada kuartal IV ketika stok baru mulai masuk ke pasar," katanya.
Menurut Alphonzus, kenaikan biaya produksi akan berdampak pada hampir seluruh kategori produk. Kenaikan biaya logistik dan energi memengaruhi baik produk impor maupun produk yang diproduksi di dalam negeri.
"Kalau barang impor tentu lebih terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Tetapi produk dalam negeri juga akan mengalami tekanan karena biaya energi, logistik, dan bahan bakunya meningkat. Jadi hampir semua kategori produk berpotensi mengalami kenaikan harga," ujarnya.
Meski demikian, Alphonzus menegaskan kenaikan harga merupakan pilihan terakhir bagi pelaku usaha ritel. APPBI berharap pemerintah mampu mengendalikan berbagai faktor yang mendorong kenaikan biaya produksi sebelum memasuki kuartal IV sehingga kenaikan harga barang dapat diminimalkan.
Apabila kenaikan biaya tidak dapat dihindari, para peritel akan menerapkan berbagai strategi agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Langkah yang disiapkan antara lain menggunakan bahan baku alternatif yang lebih murah, menghadirkan produk dengan ukuran kemasan yang lebih kecil, hingga memperbanyak program promosi.
"Tujuannya agar masyarakat, terutama kelompok menengah bawah, tetap bisa membeli kebutuhan mereka meski terjadi penyesuaian harga," katanya.
Alphonzus juga menilai pemerintah perlu memprioritaskan upaya menjaga kondisi ekonomi domestik dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Menurutnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sehingga stabilitas daya beli perlu dijaga.










