Laba Raksasa Migas Ini Melonjak 2 Kali Lipat Imbas Perang di Timur Tengah

Laba Raksasa Migas Ini Melonjak 2 Kali Lipat Imbas Perang di Timur Tengah

Terkini | inews | Jum'at, 31 Juli 2026 - 04:35
share

LONDON, iNews.id - Laba bersih raksasa migas, Shell naik lebih dari dua kali lipat pada kuartal II 2026. Hal ini didorong lonjakan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, 

Melansir BBC, Shell membukukan laba sebesar 9,84 miliar dolar AS atau setara Rp177,91 triliun (kurs Rp18.080 per dolar AS) pada periode April-Juni 2026. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,26 miliar dolar AS.

Kenaikan laba didorong melonjaknya harga minyak mentah setelah pecahnya perang antara AS, Israel, dan Iran. Konflik ini mengganggu pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global yang melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Di sisi lain, harga energi juga mengalami fluktuasi tajam sepanjang konflik, sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi bisnis perdagangan (trading) perusahaan.

CEO Shell, Wael Sawan mengatakan, kinerja operasional perusahaan mampu menghasilkan pencapaian yang sangat kuat di tengah gejolak pasar energi global.

Jika digabungkan dengan laba kuartal I sebesar 6,92 miliar dolar AS, total laba semester I 2026 melonjak sekitar 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan energi besar lainnya seperti BP dan Equinor juga menikmati lonjakan laba tahun ini karena memperoleh keuntungan dari volatilitas harga minyak.

Sebelum konflik pecah, harga minyak Brent berada di kisaran 73 dolar AS per barel. Setelah perang berlangsung, harganya sempat melampaui 120 dolar AS per barel, sebelum kembali turun ke bawah 100 dolar AS di tengah spekulasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pergerakan harga yang tajam tersebut memperlebar selisih harga beli dan jual, sehingga meningkatkan potensi keuntungan dari aktivitas perdagangan minyak.

Produksi LNG di Qatar Terdampak

Di balik kenaikan laba, konflik Timur Tengah juga berdampak pada operasional perusahaan.

Produksi LNG di Qatar telah berhenti sejak awal Maret akibat konflik. Selain itu, fasilitas Pearl Gas-to-Liquids (GTL) di negara tersebut mengalami kerusakan parah setelah terkena serangan rudal pada Maret lalu. Perusahaan memperkirakan proses perbaikan akan memakan waktu sekitar satu tahun.

Akibat gangguan tersebut, produksi gas turun menjadi 631.000 barel setara minyak per hari pada kuartal II, dari 909.000 barel setara minyak per hari pada kuartal I.

Secara keseluruhan, produksi minyak dan gas selama semester I 2026 turun 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, perusahaan mulai memperoleh tambahan produksi dari proyek baru di Brasil dan Teluk Amerika.

Topik Menarik