Demi Berkah, Warga Rela Berdesakan Rebutan Gunungan Haul Ki Ageng Jaka Tarub di Grobogan
GROBOGAN, iNews.id - Ribuan warga berdesakan saat rebutan gunungan Haul Ki Ageng Jaka Tarub di Lapangan Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026). Mereka berupaya untuk mendapatkan hasil bumi dari isi gunungan tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, dua gunungan berisi buah-buahan dan hasil pertanian diarak menuju lapangan. Sebelum gunungan diletakkan di lokasi yang disiapkan panitia, warga lebih dulu berlari dan menerobos barisan petugas pengamanan.
Personel gabungan TN dan Polri kewalahan menahan laju massa. Warga terus mendekati gunungan dan saling berebut hasil bumi yang tertancap pada susunan tersebut. Aksi saling dorong tidak terhindarkan. Sejumlah anak yang digendong orang tuanya serta warga lanjut usia sempat terjepit di tengah kerumunan.
Beberapa perempuan juga mengeluhkan sakit pada bagian kaki akibat berdesakan. Mereka memilih keluar dari kerumunan karena tidak kuat melanjutkan rebutan.
Balita Tewas usai Jatuh ke Lubang Proyek di Tebet, Pemkot Jaksel Beri Santunan ke Keluarga Korban
Meski suasana berlangsung penuh sesak, semangat warga untuk mendapatkan buah-buahan dan hasil bumi tidak surut. Mereka meyakini isi gunungan membawa berkah bagi keluarga.
Seluruh hasil bumi yang tersusun di dua gunungan habis diperebutkan dalam waktu singkat. Warga yang tidak berhasil mengambil langsung dari gunungan memilih memunguti buah-buahan yang jatuh dan berserakan di tanah.
Salah seorang warga, Sri Sumarni, mengaku sempat terjatuh dan terjepit saat berusaha mengambil hasil bumi. Namun, dia tetap melanjutkan usahanya untuk memperoleh buah-buahan yang akan dibawa pulang.
“Sempat jatuh kejepit juga tapi tidak merasa sakit. Dan saya nekat untuk ikut berebut meski susah payah bangun di tengah kerumunan dan ini alhamdulilah dapat banyak untuk dibawa pulang,” ujar Sri Sumarni, Rabu (29/7/2026).
Pengalaman serupa dialami Marsinah, warga Kecamatan Penawangan. Dia menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk mengikuti tradisi tahunan tersebut.
Kaki Marsinah sempat terkilir saat berada di tengah kerumunan. Dia kemudian memilih menonton dari luar arena dan tidak lagi mengikuti rebutan.
Terobos Lampu Merah Perempatan Jalan Raya Ganesha Boulevard, Truk Tabrak Motor Terekam CCTV
‘”Kaki saya sudah sakit jadi saya tidak berani lagi ikut rebutan dan milih nonton. Tapi tadi dikasih bapak-bapak yang melihat saya tidak dapat apa-apa. Pokoknya seneng aja,” katanya.
Selain gunungan hasil bumi, ratusan warga juga memadati bagian luar kompleks Makam Ki Ageng Jaka Tarub untuk mendapatkan nasi kuning berkah yang dibagikan panitia.
Warga menunggu di luar pagar agar prosesi doa di dalam makam tetap berlangsung khusyuk. Ratusan bungkus nasi kuning yang disiapkan panitia habis diperebutkan dalam waktu kurang dari 15 menit.
Sementara itu, prosesi doa bersama digelar di dalam kompleks makam. Kegiatan tersebut diikuti kerabat dan keluarga Keraton Surakarta serta didampingi juru kunci makam.
Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Adipati Dipokusumo menjelaskan tradisi tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan.
“Dalam rangka memperingsti haul leluhur dalem Ki Ageng Tarub Setiap tahun Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningratmenyampaikan beberapa utusan dan abon-abon untuk nyekar sekaligus doa kepada Ki Ageng Tarub yang menurunkan dinasti Mataram termasuk Kraton Surakarta,” ujar KGPH Dipokusumo.
Dia mengatakan haul tersebut juga menjadi sarana mengingat sejarah leluhur yang berkaitan dengan berkembangnya kerajaan Islam di Pulau Jawa.
“Tujuan haul ini untuk mengingat asal usul para leluhur yangberkaitan dengan nilai sejarah. Dan di Kraton Surakarta masih ada peninggalannya yakni sebuah dandang yang digunakan untuk masak setiap delapan tahun sekali tepatnya bulan Maulud,” katanya.
Setelah berziarah di Makam Ki Ageng Jaka Tarub, rombongan keluarga Keraton Surakarta melanjutkan doa ke Makam Ki Ageng Bondan Kejawan yang berada di sisi selatan kompleks makam.










