Kenapa Pria Selalu Pose Jempol saat Foto? Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan terkait Otak

Kenapa Pria Selalu Pose Jempol saat Foto? Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan terkait Otak

Teknologi | inews | Senin, 27 Juli 2026 - 16:51
share

JAKARTA, iNews.id - Pernah memperhatikan kebiasaan pria saat diminta berpose bebas di depan kamera? Mulai dari remaja hingga bapak-bapak, banyak yang secara spontan mengacungkan jempol. Gestur sederhana ini ternyata bukan sekadar kebiasaan atau kehabisan ide, tetapi memiliki penjelasan dari sisi medis dan ilmu saraf.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Aditya Surya Pratama, mengungkapkan kebiasaan tersebut berkaitan dengan cara kerja otak dalam memilih gerakan yang paling mudah dan aman ketika seseorang berada dalam situasi spontan.

"Kalian sadar nggak? Kenapa kalau cowok disuruh foto gaya bebas, ujung-ujungnya adalah banyak yang angkat jempol. Jempol lagi, jempol lagi. Padahal nggak disuruh, tapi refleks. Nggak usah bingung karena ini ada ilmu medisnya," kata dr. Aditya dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, dikutip Minggu (26/7/2026).

Menurut dia, faktor pertama berasal dari neuroscience atau mekanisme default gesture pada otak. Saat seseorang diminta berpose tanpa persiapan, otak akan memilih gerakan yang membutuhkan energi paling sedikit sekaligus dianggap aman secara sosial.

"Ini soal default gesture otak. Dalam neuroscience, otak manusia itu punya kecenderungan memilih gerakan yang paling simpel, familiar, dan aman secara sosial. Dan jempol adalah simbol yang paling mudah dilakukan, nggak perlu butuh mikir, nggak aneh, dan sudah dikenal sebagai tanda positif. Jadi saat bingung mau gaya apa, otak itu langsung pilih yang paling basic, jempol," ujarnya.

Selain itu, pose jempol juga berkaitan dengan reward system atau sistem penghargaan di otak yang melibatkan hormon dopamin. Sejak kecil, banyak orang mengenal acungan jempol sebagai simbol "bagus", "oke", atau "setuju". Pengalaman yang berulang membuat gestur tersebut tersimpan sebagai memori bawah sadar.

"Gestur jempol itu sejak kecil diasosiasikan dengan 'oke', 'bagus', dan 'setuju'. Artinya, gestur ini terhubung dengan dopamin atau reward system. Jadi saat seseorang pakai gestur ini, secara tidak sadar dia sedang memberi sinyal, 'Oke, gue aman, santai, dan positif'," ucapnya.

Faktor berikutnya berkaitan dengan psikologi sosial dan konsep maskulinitas. Menurut dr. Aditya, banyak pria tidak terbiasa mengekspresikan diri melalui pose yang dianggap terlalu dramatis atau ekspresif saat berfoto.

"Banyak pria yang tidak terbiasa mengekspresikan diri lewat pose yang variatif atau ekspresif. Jadi dibandingkan gaya yang dianggap terlalu effort atau kurang maskulin, mereka pilih gestur yang paling simpel, tegas, dan nggak bikin ribet," katanya.

Dia menambahkan, tubuh manusia juga memiliki mekanisme alami saat menghadapi rasa canggung di depan kamera. Dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung melakukan gerakan otomatis untuk membantu mengurangi ketegangan.

"Biasanya muncul gestur otomatis seperti jempol, tangan di saku, atau tangan dilipat. Ini disebut self-regulation gesture, yaitu cara tubuh mengurangi rasa canggung. Jadi kesimpulannya, itu adalah kombinasi dari kebiasaan sejak kecil, sistem reward otak, faktor sosial, dan respons saat canggung," ujarnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan kebiasaan pria berpose dengan jempol bukan semata-mata karena kurang kreatif. Gestur yang terlihat sederhana itu merupakan hasil kombinasi cara kerja otak, pembentukan memori sejak kecil, norma sosial, serta respons alami tubuh ketika berada di depan kamera.

Topik Menarik