Pasukan Israel Ditipu Pimpinan, Dikirim Perang dengan Jumlah Personel dan Tank Tak Sesuai Janji
TEL AVIV, iNews.id - Pengiriman pasukan Israel ke medan perang di Lebanon ternyata tidak sesuai dengan gambaran yang disampaikan para pimpinan militer. Laporan Army Radio mengungkap brigade yang disebut sebagai formasi penuh justru diterjunkan dengan jumlah personel, tank, dan kendaraan tempur yang jauh di bawah kebutuhan.
Kesaksian para komandan pasukan cadangan memperlihatkan adanya perbedaan mencolok antara klaim para pengambil keputusan dan kondisi nyata di lapangan. Mereka menyebut masyarakat diberi kesan bahwa brigade lengkap telah dikirim ke garis depan, padahal kenyataannya formasi yang bertugas jauh lebih kecil dengan perlengkapan tempur yang tidak memadai.
Kondisi tersebut terungkap di tengah krisis yang dihadapi militer Israel. Selain kekurangan personel cadangan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga dilaporkan mengalami kekurangan tank siap tempur akibat banyak kendaraan lapis baja rusak atau tidak lagi dapat dioperasikan.
Stasiun radio militer Israel, Army Radio, melaporkan brigade dan batalion pasukan cadangan kini beroperasi dengan kekuatan yang tidak penuh. Jumlah personel maupun tank yang tersedia disebut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pertempuran.
Dalam laporan berjudul "Peringatan Angkatan Bersenjata tentang Keruntuhan Pasukan Cadangan", Army Radio mengungkap sebuah brigade lapis baja baru-baru ini dikerahkan ke medan tempur utama di Lebanon. Namun laporan dari komandan dan prajurit menggambarkan situasi yang sangat berbeda dengan informasi yang disampaikan para pengambil keputusan.
"Ini bukan brigade penuh. Mereka jauh dari itu," bunyi laporan yang dikutip pada Kamis (23/7/2026).
Seorang komandan pasukan cadangan yang identitasnya dirahasiakan mengatakan publik dan para pengambil keputusan mendengar bahwa brigade penuh telah dikirim ke Lebanon. Namun kenyataannya, pasukan yang diterjunkan hanya merupakan formasi dengan kekuatan jauh lebih kecil.
"Jumlah tentara, tank, dan kendaraan jauh lebih rendah," ujarnya.
Menurut Army Radio, militer Israel tidak lagi memiliki cukup tank siap tempur. Banyak tank rusak akibat pertempuran dan dinonaktifkan sehingga sejumlah kompi lapis baja terpaksa beroperasi dengan jumlah kendaraan di bawah standar kebutuhan.
Sejak Oktober 2023, Israel terlibat operasi militer di berbagai front, termasuk Jalur Gaza dan Lebanon. Selain itu, Israel juga berulang kali melancarkan serangan ke Suriah serta memperluas operasi militernya di Tepi Barat. Operasi yang berlangsung di banyak wilayah tersebut semakin membebani personel dan perlengkapan militer.
Army Radio juga menyoroti metode militer dalam menghitung tingkat kehadiran pasukan cadangan yang dinilai berisiko menimbulkan gambaran keliru. Unit yang dilaporkan memiliki tingkat kehadiran 50 hingga 70 persen, dalam praktiknya disebut beroperasi dengan kekuatan yang jauh lebih rendah pada waktu-waktu tertentu.
"Unit cadangan saat ini kosong. Satu batalion bukan batalion penuh, dan satu kompi bukan kompi yang sebenarnya," kata komandan tersebut.
Dia menambahkan, kondisi setiap unit cadangan berbeda-beda, namun secara umum seluruh personel menghadapi kesulitan besar untuk mempertahankan operasi.
"Ada unit yang kondisinya lebih baik dan ada pula yang kondisinya lebih buruk. Semua orang melakukan yang terbaik, tapi sulit untuk melanjutkan dalam keadaan seperti ini," ujarnya.
Laporan itu juga mengungkap satu kompi cadangan baru-baru ini menyelesaikan misi di Lebanon hanya dengan satu perwira yang tersisa. Komandan kompi telah dibebastugaskan, tidak ada bintara senior, dan unit tersebut beroperasi tanpa rantai komando yang berfungsi.
Militer Israel tidak mengungkap jumlah pasukan yang saat ini dikerahkan ke Lebanon, Jalur Gaza, Tepi Barat, maupun Suriah.










