Israel Akan Dirikan Permukiman Tentara di Gaza, Buka Jalan Kembalikan Pemukim Yahudi

Israel Akan Dirikan Permukiman Tentara di Gaza, Buka Jalan Kembalikan Pemukim Yahudi

Terkini | inews | Kamis, 16 Juli 2026 - 07:20
share

TEL AVIV, iNews.id - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan rencana mendirikan tiga pos permukiman militer di Jalur Gaza. Langkah tersebut dinilai membuka jalan bagi kembalinya warga Yahudi untuk menetap secara permanen di wilayah Gaza Utara.

Pengumuman itu disampaikan Katz saat mengunjungi Gaza Utara pekan lalu. Dalam kunjungan tersebut, dia juga mengusulkan agar pemukim Yahudi kembali menghuni kawasan itu dengan alasan memperkuat kendali dan keamanan Israel. 

Israel pernah memiliki permukiman di Gaza, sebelum keluar pada 2005 setelah pecahnya gerakan Intifadah.

Katz menjelaskan, strategi militer Israel di Gaza kini telah berubah. Jika sebelumnya pasukan hanya masuk untuk melakukan operasi lalu keluar, kini tentara akan ditempatkan secara permanen di sejumlah titik yang telah dikuasai.

"Alih-alih masuk dan keluar, tentara berada di dalam, teroris berada di luar, dan rumah-rumah hancur," ujarnya.

Salah satu lokasi yang disebut memiliki peran penting adalah Pos Nahal, sebuah permukiman yang terkait dengan militer dan sebelumnya digunakan sebagai cikal bakal komunitas sipil Israel di Gaza. Keberadaan pos tersebut dinilai dapat menjadi dasar bagi pembangunan kembali permukiman warga Yahudi di wilayah itu.

Menurut Katz, pendirian pos-pos militer sekaligus pembukaan kembali permukiman Yahudi diperlukan demi alasan keamanan. Dia mengeklaim langkah tersebut akan memperkuat kendali Israel atas kawasan Gaza Utara serta meningkatkan perlindungan bagi komunitas di sekitarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Katz juga mengungkapkan kepuasannya atas kondisi Jalur Gaza yang kini mengalami kehancuran luas akibat perang.

Saat ditanya wartawan mengenai kesannya melihat langsung kehancuran Gaza, Katz menjawab, "Perasaan yang senang, bukan?" sebagaimana dikutip dari stasiun televisi Channel 14.

Dia menegaskan kerusakan besar di Gaza merupakan bagian dari kebijakan yang disengaja untuk menghilangkan ancaman dari kelompok pejuang Palestina.

Jalur Gaza mengalami kehancuran besar akibat perang yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Serangan Israel dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 73.000 warga Gaza tewas dan lebih dari 173.000 lainnya mengalami luka-luka.

Selain menimbulkan korban jiwa, perang juga menghancurkan sekitar 91 persen infrastruktur di wilayah Gaza, membuat sebagian besar kawasan tersebut mengalami kerusakan parah.

Topik Menarik