Ngeri! Iran Tutup Bab Al Mandab, Harga Minyak Bisa Tembus 200 Dolar per Barel

Ngeri! Iran Tutup Bab Al Mandab, Harga Minyak Bisa Tembus 200 Dolar per Barel

Terkini | inews | Rabu, 15 Juli 2026 - 14:53
share

BEIRUT, iNews.id - Iran memberi sinyal akan menutup Selat Bab Al Mandab, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jika langkah itu benar-benar dilakukan, harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel.

Ancaman tersebut muncul seiring rencana Iran bekerja sama dengan kelompok Houthi di Yaman untuk menekan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Penutupan Bab Al Mandab juga berpotensi membuka front baru dalam konflik kawasan sekaligus mengganggu dua jalur pasokan energi terpenting di dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab Al Mandab.

Seorang pejabat senior Houthi menegaskan militernya siap menutup Selat Bab Al Mandab apabila Arab Saudi terus melancarkan serangan ke Yaman. Menurutnya, langkah tersebut akan memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.

"Jika situasi saat ini memburuk, Selat Bab Al Mandab dan Selat Hormuz akan ditutup dalam aliansi operasional. Harga minyak kemudian akan meroket hingga 200 dolar per barel, guncangan yang mengerikan," kata anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Farah, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (15/7/2026).

Al Farah menuduh AS menghasut Arab Saudi untuk terus menyerang Yaman. Dia menegaskan provokasi semacam itu tidak akan memberikan keuntungan bagi Washington.

Seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan memanasnya konflik di Yaman, sejumlah pengamat menilai Iran sedang mempertimbangkan memperluas tekanan terhadap AS dengan mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi global di luar kawasan Teluk.

Sebelumnya, Iran telah menunjukkan kemampuan strategisnya dengan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Kini, Teheran dinilai siap membuka titik tekanan kedua melalui Bab Al Mandab, jalur sempit yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan internasional dan jalur utama ekspor minyak Arab Saudi.

Pengamat Timur Tengah, Fawaz Gerges, mengatakan Bab Al Mandab dapat menjadi kartu strategis terakhir Iran jika tekanan di Selat Hormuz tidak lagi cukup memberikan pengaruh.

"Jika Hormuz adalah pengungkit strategis terkuat Teheran, Bab Al Mandab mungkin menjadi cadangan terakhirnya. Iran akan melakukan apa pun," ujarnya kepada Reuters.

Menurut Gerges, Iran ingin menunjukkan kepada AS bahwa mereka mampu mengancam dua jalur pelayaran paling penting di dunia secara bersamaan. Langkah itu akan mengubah konflik dari sekadar konfrontasi bilateral menjadi ancaman serius terhadap jalur laut yang menopang perdagangan dan pasokan energi global.

"Sekarang (Iran) meningkatkan eskalasi, baik di dekat maupun luar. Pesannya adalah bahwa bukan hanya Hormuz, tapi Bab Al Mandab ikut berisiko," katanya.

Topik Menarik