Indonesia Cetak Sejarah! Jadi Negara Pertama di Asia Tenggara Bangun Ekosistem Plasma Nasional

Indonesia Cetak Sejarah! Jadi Negara Pertama di Asia Tenggara Bangun Ekosistem Plasma Nasional

Terkini | inews | Senin, 13 Juli 2026 - 11:26
share

JAKARTA, iNews.id – Indonesia mencetak sejarah dengan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membangun ekosistem plasma nasional secara terintegrasi. 

Langkah ini ditandai dengan kemitraan strategis antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan perusahaan biofarmasi global Takeda untuk memperkuat industri plasma sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma (PODP).

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Kementerian Kesehatan menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma. Penetapan ini memungkinkan perusahaan melakukan pengumpulan plasma dan proses fraksionasi secara bertahap sebagai fondasi pembangunan ekosistem plasma nasional, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengembangan industri biofarmasi di dalam negeri.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pembangunan ekosistem plasma merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus memastikan masyarakat memperoleh akses yang lebih baik terhadap terapi penting.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).

Menurut dia, kemitraan tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi berbagai tantangan kesehatan pada masa mendatang.

"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," ujarnya.

Sebagai tahap awal pengembangan, Takeda akan menginvestasikan hingga 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp539 miliar dalam dua tahun ke depan untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Investasi tersebut akan menjadi dasar pengembangan jaringan bank plasma nasional yang nantinya dievaluasi bersama Kementerian Kesehatan sebelum diperluas ke berbagai daerah.

Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan akan menjadi bagian dari jaringan BioLife milik Takeda. Selama fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam tahap pengkajian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan Indonesia terhadap PODP sesuai ketentuan yang berlaku.

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, mengatakan kemitraan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan di Indonesia.

"Kemitraan ini menunjukkan komitmen Takeda untuk memperluas akses terhadap PODP sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan di Indonesia," ujar Ramy.

Dia menambahkan, pengalaman global Takeda di bidang terapi berbasis plasma diharapkan dapat membantu Indonesia meningkatkan layanan kesehatan, memperkuat ketersediaan terapi penyelamat nyawa, sekaligus menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi.

Pembangunan ekosistem plasma nasional juga mencakup pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium, penerapan standar mutu serta regulasi internasional, hingga transfer teknologi di bidang pengumpulan plasma dan biofarmasi.

Selain membangun jaringan bank plasma, Takeda bersama pemerintah juga akan mengkaji kelayakan pembangunan fasilitas manufaktur produk obat derivat plasma berteknologi tinggi di Indonesia. Apabila terealisasi, fasilitas tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berpotensi memasok pasar global dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kesehatan dunia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menilai proyek tersebut bukan hanya menghadirkan investasi baru, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan kapasitas nasional.

"Investasi ini merupakan investasi yang strategis. Selain menghadirkan investasi baru, kemitraan ini juga membuka peluang untuk transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia, tetapi juga mendukung visi kami untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.

Secara global, permintaan terhadap produk obat derivat plasma terus meningkat. Namun, banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan dalam menjamin ketersediaannya akibat terbatasnya pasokan plasma, rendahnya tingkat diagnosis penyakit yang membutuhkan terapi tersebut, serta minimnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat PODP.

Melalui pembangunan ekosistem plasma nasional, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan akses pasien terhadap terapi penting, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi pengumpulan plasma, manufaktur biofarmasi, dan inovasi kesehatan di kawasan Asia Tenggara.

Topik Menarik