Iran: Israel Tak Akan Luput dari Pembalasan
TEHERAN, iNews.id - Iran mengulangi ancamannya, akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas infrastrukturnya. Secara khusus, Iran menunjuk Israel akan mendapat pembalasan setara.
“Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, setiap serangan terhadap infrastruktur akan dibalas dengan serangan yang setara,” kata Mohammad Bagher Zolghadr, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, seperti dilaporkan kantor berita Mehr, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Dia menegaskan, Israel yang menjadi biang kerok berbagai konflik di Timur Tengah, tak akan luput dari pembalasan tersebut.
Sebelumnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, perang melawan Iran belum berakhir.
“Ada tantangan baru,” kata Netanyahu, saat menghadiri kelulusan Akademi Angkatan Udara Israel, di Pangkalan Udara Hatzerim, Kamis.
Dia menegaskan, mempertahankan superioritas udara merupakan doktrin keamanan nasional Israel. Israel mengandalkan pesawat-pesawat tempur dan rudal udara ke darat untuk menyerang wilayah Iran karena jarak kedua negara sangat jauh.
Hal senada disampaikan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Eyal Zamir yang mengatakan rencana operasi militer baru sedang disusun seraya memperingatkan operasi melawan Teheran belum berakhir.
"Rencana-rencana baru sedang disusun. Operasi-operasi besar diperkirakan masih akan terjadi di masa mendatang. Bersiaplah!" kata Zamir.
Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah AS dan Iran kembali saling menyerang sejak Selasa (7/7/2026). Eskalasi dipicu oleh penembakan yang dilakukan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.
Padahal, kedua negara sebelumnya telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad pada 17 Juni yang mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun, Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan, kesepakatan tersebut sudah tidak lagi berlaku.
Sementara itu serangan militer AS ke Iran menghancurkan beberapa infrastruktur, termasuk jembatan kereta api yang menghubungkan negara tersebut dengan China dan Rusia.










