Pakar Beberkan Tantangan Biodiesel B50, Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan

Pakar Beberkan Tantangan Biodiesel B50, Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan

Otomotif | inews | Jum'at, 3 Juli 2026 - 15:05
share

JAKARTA, iNews.id - Penggunaan biodiesel B50 digadang-gadang menjadi langkah penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi di Indonesia. Namun, di balik manfaatnya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada kualitas bahan bakar maupun kinerja mesin kendaraan.

Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan mengatakan, biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dengan solar fosil. Perbedaan sifat tersebut menjadi perhatian, terutama ketika kadar biodiesel dalam campuran semakin tinggi seperti pada B50.

Menurutnya, biodiesel tersusun atas ester asam lemak yang membuatnya lebih mudah menyerap air dari lingkungan. Selain itu, biodiesel juga lebih rentan mengalami oksidasi apabila terdapat ikatan rangkap.

"Proses oksidasi berpotensi menghasilkan peroksida, asam organik, dan gum yang dapat menurunkan kualitas bahan bakar. Di sisi lain, kandungan air dapat memicu hidrolisis, korosi, serta pertumbuhan mikroorganisme yang risikonya semakin meningkat pada campuran tinggi seperti B30 hingga B50 apabila pengelolaannya kurang optimal," ujar Dr Leopold dalam keterangan tertulis yang diterima iNews.id, Jumat (3/7/2026).

Dia menjelaskan, penurunan kualitas bahan bakar tersebut bukan semata-mata dipengaruhi komposisi biodiesel. Proses produksi, penyimpanan, distribusi, pencampuran hingga penanganan sebelum digunakan di kendaraan juga menjadi faktor yang menentukan.

Meski memiliki tantangan, Dr Leopold menegaskan berbagai hasil pengujian menunjukkan campuran biodiesel berkadar tinggi masih dapat digunakan pada mesin diesel modern tanpa menimbulkan penurunan performa yang signifikan.

"Berbagai pengujian kendaraan menunjukkan campuran biodiesel berkadar tinggi masih dapat digunakan pada mesin diesel modern tanpa penurunan performa yang berarti selama ribuan kilometer pengujian," katanya.

Namun, dia mengingatkan hasil tersebut umumnya diperoleh menggunakan bahan bakar yang masih segar. Kondisi itu belum sepenuhnya menggambarkan kualitas biodiesel setelah melalui proses penyimpanan dan distribusi dalam jangka waktu yang lama.

Sebab itu, implementasi biodiesel B50 memerlukan pengujian jangka panjang serta pemantauan berkala. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga sekaligus menjaga keandalan mesin kendaraan yang menggunakannya.

Selain berdampak pada sektor otomotif, penggunaan biodiesel B50 juga berpotensi menekan emisi GRK dibandingkan solar fosil. Meski begitu, manfaat lingkungan tersebut hanya dapat diperoleh apabila produksi biodiesel dilakukan secara berkelanjutan tanpa melibatkan konversi lahan berstok karbon tinggi seperti hutan maupun lahan gambut.

Dr Leopold menilai keberhasilan implementasi B50 membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, industri otomotif, produsen bahan bakar, akademisi, hingga masyarakat. Dengan begitu, biodiesel dapat menjadi teknologi transisi menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi sekaligus mendukung target net zero emission (NZE) Indonesia pada 2050–2060.

Topik Menarik