Okupansi Hotel Berbintang di Mei 2026 Naik gegara Banyak Libur Panjang, Ini Datanya!
JAKARTA, iNews.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat okupansi kamar (TPK) hotel berbintang di Indonesia berhasil menyentuh angka 50,76 persen pada Mei 2026. Hal itu ternyata didorong faktor libur panjang.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono frekuensi libur akhir pekan di bulan Mei banyak diperpanjang dengan long weekend. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan lini masa yang sama pada tahun lalu.
“Pada Mei terdapat lebih banyak long weekend dibandingkan Mei 2025, sehingga turut mendorong peningkatan tingkat hunian hotel berbintang,” ucap Ateng dalam Rilis BPS, dikutip Jumat (3/7/2026).
BPS merinci, rapor TPK hotel berbintang pada Mei 2026 ini merangkak naik sebesar 1,93 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) terhadap posisi April 2026. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), sektor akomodasi ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,48 persen dibandingkan kondisi Mei 2025.
Berdasarkan sebaran wilayah geografis, otoritas statistik mencatat Pulau Dewata Bali masih kokoh memimpin sebagai provinsi dengan tingkat okupansi hotel berbintang tertinggi di Indonesia, yakni mencapai angka TPK sebesar 61,16 persen.
Posisi peringkat kedua ditempati oleh Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengantongi angka keterisian sebesar 57,06 persen. Sedangkan, Kalimantan Barat mencatatkan kejutan dengan menembus angka TPK sebesar 56,26 persen, sekaligus menempatkannya sebagai salah satu wilayah dengan tingkat hunian hotel berbintang tertinggi di luar Pulau Jawa.
Secara bulanan, BPS merekam peta pergerakan okupansi yang cukup merata di mana terdapat 25 provinsi di Tanah Air yang sukses mengalami lonjakan TPK pada Mei 2026 dibandingkan bulan April 2026, sedangkan 13 provinsi sisanya terpaksa mengalami penurunan performa.
Di samping kontribusi dari sektor pariwisata liburan, Ateng menambahkan performa positif bisnis perhotelan ini juga ikut didorong oleh kembali menggeliatnya roda aktivitas ekonomi korporasi dan pemerintah.
Laju kegiatan berbasis MICE (meeting, incentive, conference, exhibition), baik yang berskala nasional maupun ajang internasional, terpantau masif diselenggarakan di berbagai daerah.
Secara makro, BPS menarik kesimpulan bahwa angka keterisian pada segmen hotel berbintang di berbagai daerah terpantau masih jauh lebih dominan dan kokoh jika dikontrasikan dengan performa hotel nonbintang.
Fenomena pasar ini merefleksikan bahwa ceruk permintaan masyarakat dan pelaku usaha pada segmen akomodasi yang memiliki klasifikasi resmi di Indonesia masih sangat kuat dan berdaya tahan tinggi.










