Konflik dengan AS Memanas, Iran Tegaskan Pegang Kendali Penuh Selat Hormuz

Konflik dengan AS Memanas, Iran Tegaskan Pegang Kendali Penuh Selat Hormuz

Terkini | inews | Senin, 29 Juni 2026 - 03:03
share

TEHERAN, iNews.id - Iran menegaskan masih memegang kendali penuh terhadap lalu lintas di Selat Hormuz pasca-aksi saling serang dengan militer Amerika Serikat (AS) beberapa hari terakhir.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan, setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz harus meminta izin kepada otoritas Iran.

“Saya memberi pengarahan kepada mitra saya mengenai hasil terbaru dari perang yang dilancarkan terhadap Iran serta perkembangan terkait nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat,” kata Araghchi, merujuk pada Menlu Irak, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (29/6/2026).

Dia menegaskan, sesuai MoU yang diteken pada 17 Juni itu, Iran berwenang untuk mengatur lalu lintas di jalur perairan strategis tersebut selama 30 hari.

“Selat Hormuz tetap berada di bawah pengawasan dan pengelolaan penuh Iran selama 30 hari ke depan, dan setelah semua hambatan dihapus, kapasitas penuh jalur perairan tersebut akan dipulihkan. Inilah yang sedang kami upayakan,” ujarnya, dalam kunjungan di Irak.

Menurut Araghchi, tanggung jawab untuk memulihkan lalu lintas Selat Hormuz ada di tangan Iran, bukan negara lain. 

“Tanggung jawab ini berada di pundak Republik Islam Iran. Tidak ada pihak atau negara lain (terlibat).dalam hal ini," tuturnya.

Dia menggarisbawahi, intervensi atau tindakan sepihak dari negara mana pun hanya akan memperburuk situasi serta menunda pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran umum.

Iran terlibat saling serang dengan militer AS sejak Jumat pekan lalu. Mulawanya Iran menyerang kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin pada Kamis. Serangan tersebut direspons AS dengan menggempur beberapa fasilitas militer Iran keesokan harinya.

Tak tinggal diam, Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Bahrain.

Kemudian pada Sabtu, Iran kembali menyerang kapal tanker yang lagi-lagi melintas tanpa izin. Serangan itu juga direspons AS dengan menyerang sejumlah fasilitas militer Iran, seperti fasilitas radar serta gudang rudal dan drone, di hari yang sama.

Iran pun membalas kembali serangan itu dengan menggempur pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan militer AS terhadap beberapa target di Iran.

"Pesawat-pesawat AS baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta lokasi radar pantai," kata Trump, di Truth Social.

Trump mengeklaim serangan tersebut sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang berulang oleh Iran.

Dia mengancam, AS bisa menggunakan cara militer untuk menyelesaikan misinya terhadap Iran.

"Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bersikap rasional, dan akan dipaksa untuk menyelesaikan secara militer tugas yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi," tulisnya.

Topik Menarik