Kekeringan Landa 4 Kabupaten di Jateng, Ribuan Warga Krisis Air Bersih
JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kekeringan melanda empat kabupaten di Jawa Tengah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut mengakibatkan ribuan warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melaporkan keringan melanda Kabupaten Boyolali, Banjarnegara, Klaten, dan Cilacap.
Di Boyolali, sebanyak 42 kepala keluarga atau 125 warga di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro terdampak fenomena tersebut.
"BPBD Kabupaten Boyolali telah menyalurkan bantuan air bersih yang dilaporkan tersalurkan secara merata, aman, dan tertib kepada seluruh warga yang membutuhkan," ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).
Dia menuturkan, kekeringan di Kabupaten Banjarnegara yang terjadi pada periode Juni 2026 berdampak pada 339 kepala keluarga atau 2.069 jiwa, dengan status siaga darurat yang telah ditetapkan sejak 22 Juni hingga 19 September 2026. “BPBD setempat telah mendistribusikan 6.000 liter air bersih," katanya.
Kekeringan juga melanda Kabupaten Klaten pada periode Juni 2026 dengan dampak mencapai 2.161 kepala keluarga atau 6.859 warga, di mana distribusi air bersih hingga 24 Juni 2026 telah mencapai 121 tangki atau setara dengan 605.000 liter air.
Selain itu, kekeringan di Kabupaten Cilacap yang terjadi sejak (9/6/2026) berdampak pada 667 kepala keluarga atau 2.386 warga, dengan BPBD setempat yang telah menyalurkan 25.000 liter air bersih kepada 523 kepala keluarga atau 1.932 jiwa di Kecamatan Adipala, Patimuan, Kampung Laut, dan Gandrungmangu.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.
Pemerintah daerah diharapkan terus memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat terdampak serta memperkuat langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana.
"Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kondisi yang dapat memicu terjadinya bencana," ucap dia.










