Raksasa Teknologi Oracle PHK 21.000 Karyawan usai Fokus Bisnis Beralih ke AI

Raksasa Teknologi Oracle PHK 21.000 Karyawan usai Fokus Bisnis Beralih ke AI

Terkini | inews | Rabu, 24 Juni 2026 - 04:12
share

TEXAS, iNews.id - Perusahaan teknologi, Oracle melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 21.000 karyawan di seluruh dunia dalam setahun terakhir. Hal ini dilakukan seiring raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) itu menata ulang bisnisnya dengan fokus pada kecerdasan buatan (AI).

Melansir BBC, perusahaan perangkat lunak dan komputasi awan (cloud computing) tersebut menyebut bahwa jumlah karyawan tetapnya per 31 Mei 2026 mencapai sekitar 141.000 orang, turun dari sekitar 162.000 karyawan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam laporan itu, Oracle menyatakan bahwa penerapan teknologi AI di seluruh operasional perusahaan telah menyebabkan dan kemungkinan masih akan terus menyebabkan pengurangan jumlah tenaga kerja.

Pemangkasan yang setara dengan sekitar 13 persen dari total tenaga kerja Oracle itu mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi. Banyak perusahaan teknologi kini menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur AI, termasuk pusat data (data center).

Amazon dan Meta, induk perusahaan Facebook, juga telah memangkas ribuan pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir di tengah besarnya investasi mereka pada teknologi AI.

Menurut perkiraan sejumlah perusahaan pemantau tenaga kerja, lebih dari 100.000 pekerja sektor teknologi kehilangan pekerjaan dalam setahun terakhir.

Sejumlah karyawan senior Oracle sebelumnya mengungkapkan bahwa perusahaan melakukan PHK dalam jumlah besar pada April lalu. Namun, skala penuh dari pemangkasan tersebut baru diketahui setelah laporan tahunan perusahaan dipublikasikan.

Oracle menyebut langkah tersebut menimbulkan biaya pesangon dan biaya restrukturisasi lainnya sekitar 1,8 miliar dolar AS (sekitar Rp29 triliun) sepanjang tahun lalu.

Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya restrukturisasi sebesar 374 juta dolar AS pada tahun fiskal sebelumnya.

Selain itu, Oracle juga mengakui bahwa proses restrukturisasi yang dijalankan dapat menimbulkan gangguan terhadap operasional perusahaan. 

Perusahaan memperingatkan bahwa reorganisasi tersebut berpotensi menyebabkan kekurangan tenaga kerja terampil pada posisi tertentu, yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan berdampak pada pendapatan perusahaan.

"Seiring pertumbuhan bisnis cloud dan AI kami, kami akan terus menyeimbangkan sumber daya serta melakukan restrukturisasi pada kelompok pengembangan kami guna memastikan kami memiliki orang yang tepat untuk menghadirkan produk cloud dan AI terbaik bagi pelanggan di seluruh dunia," tulis keterangan Oracle.

Oracle saat ini tengah berlomba memperluas pembangunan pusat data untuk memenuhi kebutuhan perusahaan AI besar seperti OpenAI dan Meta.

Sebelumnya dilaporkan bahwa Oracle berencana menginvestasikan sedikitnya 50 miliar dolar AS untuk infrastruktur pada tahun ini.

Topik Menarik