BRI Perkuat Budidaya Lele di Kebun Gangnam, Diolah Jadi Makanan Bergizi Atasi Stunting

BRI Perkuat Budidaya Lele di Kebun Gangnam, Diolah Jadi Makanan Bergizi Atasi Stunting

Ekonomi | inews | Senin, 22 Juni 2026 - 13:37
share

JAKARTA, iNews.id - Empat kolam ikan berdiri di salah satu sudut Kebun Pegangsaan Dua Menanam (Gangnam), Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut). Airnya memantulkan cahaya matahari yang menembus atap kanopi bantuan BRI Peduli.

Gemercik air sesekali muncul di permukaan yang terlihat sedikit keruh. Puluhan ikan lele dengan panjang sekitar 10 cm terlihat berenang ke sana ke mari seperti anak kecil yang sedang bermain.

Koordinator Lapangan Kelompok Tani Gangnam Yunus Banul mengatakan kolam-kolam tersebut merupakan tempat budidaya lele yang dikembangbiakkan sedari masih bibit. Dia menuturkan bibit-bibit tersebut merupakan hasil pemijahan dari indukan lele yang berada di kolam terpisah.

"Jadi ada indukan, yang ini anakannya. Lagi belajar pemijahan, tadinya kan pembesaran. Ini lagi belajar nih," ujar Yunus saat ditemui iNews.id di Kebun Gangnam pada Kamis (4/6/2026).

Dia menuturkan, lele-lele itu dikembangbiakkan hingga siap panen. Biasanya, panen dilakukan saat lele mencapai ukuran konsumsi.

"Kalau lele biasanya itu (ukuran panen) 20 cm satu bulan, itu satu kilo (kilogram) isinya delapan," ucap Yunus.

Di balik keberhasilan budidaya lele tersebut, Kelompok Tani Gangnam mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari BRI melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita). Menurut Yunus, pelatihan yang diberikan mencakup seluruh tahapan budidaya lele.

Dia mengaku mendapat pelatihan pembenihan dan budidaya ikan lele dari BRI sebanyak tiga kali. Hasilnya menjadi bekal penting bagi anggota Kelompok Tani Gangnam dalam budidaya perikanan di kawasan perkotaan.

“Itu ada pelatihannya sekitar tiga kali (dari BRI). Jadi dari bibit lele sampai besar dan siap panen diajarkan,” ujar Yunus.

Lele untuk Mengentaskan Stunting

Lurah Pegangsaan Dua, Sarmudi mengatakan hasil budidaya ikan lele oleh Kelompok Tani Gangnam dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan gizi balita stunting di kawasan Pegangsaan Dua. 

Dia mengungkapkan bibit lele yang digunakan pada tahap awal pengembangan budidaya berasal dari bantuan BRI. Sementara pendanaan program penanganan stunting dilakukan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.

Ikan lele yang telah dipanen kemudian diolah menjadi makanan bergizi bekerja sama dengan SMK Negeri 33 Jakarta. Lele kemudian diolah menjadi makanan beku atau frozen food dan dibagikan ke balita-balita stunting.

“Jadi dipanen lelenya dari sini, terus sama SMK 33 diolah. Nanti ada berapa balita stunting di Pegangsaan Dua ini, sasarannya itu balita stunting,” kata Sarmudi.

Lurah Pegangsaan Dua, Sarmudi saat meninjau kolam budidaya ikan lele di Kebun Gangnam. (Foto: Rizky Agustian)

Menurut dia, lele hasil panen diolah menjadi produk makanan bergizi dengan komposisi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak.

“SMK 33 kan mereka ada jurusan tata boga. Jadi mereka takaran gizinya sudah tahu, terus komposisinya sudah paham,” ujarnya.

Sarmudi mengatakan bantuan diberikan secara berkelanjutan kepada balita stunting selama tiga bulan. Makanan olahan lele dibagikan setiap pekan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anak penerima manfaat.

Perkembangan kondisi gizi balita penerima bantuan juga dipantau secara berkala oleh puskesmas setempat untuk mengukur efektivitas program.

“Misalkan ada lima balita stunting yang dibantu, ini selama tiga bulan dibantu setiap hari. Nanti makanan olahan lele itu diberikan untuk kebutuhan seminggu, lalu dibagikan lagi minggu berikutnya,” ujar Sarmudi.

BRI Peduli Cegah Stunting

Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan BRI senantiasa mendukung program pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka prevalensi stunting. Dukungan itu demi tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Nomor 2 yakni Tanpa Kelaparan.

Berbagai kegiatan pun telah dilakukan, meliputi pemberian paket nutrisi bergizi bagi anak stunting, paket makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, serta penyediaan antropometri kit guna mendukung pengukuran tumbuh kembang anak secara akurat di posyandu dan puskesmas. Setiap satu paket antropometri kit terdiri dari timbangan digital, timbangan bayi, infantometer, stadiometer, dan tensimeter digital.

Keseluruhan program ini juga diperkuat dengan edukasi gizi dan pola asuh bagi orang tua, ibu hamil, serta remaja putri sebagai upaya pencegahan sejak dini. Hal ini menunjukkan program dilaksanakan dengan pendekatan menyeluruh, tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memperkuat fondasi pencegahan stunting.

“Melalui pelaksanaan kegiatan ini, pencegahan stunting tidak hanya diposisikan sebagai isu kesehatan semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas,” ucap Dhanny.

Dia berharap upaya ini mampu memperkuat peran serta masyarakat dalam mendukung penurunan stunting secara berkelanjutan, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup anak-anak sebagai aset penting bagi pembangunan di masa depan.

Topik Menarik