4 Desa Wisata Diperebutkan Mahasiswa dari 8 Kampus Terbaik Indonesia, Ini Alasannya!
JAKARTA, iNews.id – Biasanya mahasiswa berlomba mendapatkan beasiswa, magang di perusahaan besar, atau kesempatan studi ke luar negeri. Namun kali ini, mahasiswa dari delapan kampus ternama Indonesia justru bersaing untuk bisa terjun langsung ke desa wisata.
Empat desa wisata yang tersebar di Belitung, Cianjur, Wonosobo, dan Tomohon mendadak menjadi incaran mahasiswa setelah dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Menariknya, persaingan tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi bergengsi seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Padjadjaran (Unpad), IPB University, BINUS University, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, hingga Universitas Cenderawasih dari Papua.
Mereka harus menyisihkan lebih dari 260 proposal yang diajukan oleh mahasiswa dari 98 perguruan tinggi di seluruh Indonesia sebelum akhirnya masuk ke babak delapan besar. Program ini bagian dari Genera-Z Berbakti 2026.
Seru! Festival ASEAN-India Bazaar 2026 Jadi Tempat Berburu Kuliner sekaligus Belajar Budaya
Keempat desa yang menjadi tujuan pengabdian memiliki karakteristik berbeda. Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung dikenal dengan potensi ekonomi kreatif dan wisata budaya. Sementara Desa Wisata Situs Gunung Padang di Cianjur memiliki daya tarik sebagai kawasan yang menyimpan salah satu situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.
Di Jawa Tengah, Desa Wisata Patakbanteng menawarkan potensi wisata alam yang berada di kawasan dataran tinggi Dieng. Adapun Desa Wisata Kakaskasen Dua di Tomohon dikenal sebagai salah satu daerah yang berkembang melalui sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal.
Duta Bakti BCA Nicholas Saputra menilai para peserta tahun ini datang dengan pemahaman yang lebih matang terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat desa.
"Kami melihat ide-ide dari teman-teman mahasiswa begitu tajam. Mereka terlihat fokus menggali masalah dan alasan di balik penawaran-penawaran program tersebut. Para peserta terlihat antusias. Teman-teman mahasiswa tampak lebih siap secara proposal dan lebih kompak," ujar Nicholas dalam keterangan resminya, Senin (22/6/2026).
Menurut Nicholas, perubahan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak lagi sekadar datang membawa program, tetapi mulai berusaha memahami akar persoalan sebelum menawarkan solusi.
Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan cara pandang mahasiswa terhadap pengabdian masyarakat. Jika dulu kegiatan semacam ini identik dengan kewajiban akademik, kini banyak mahasiswa melihat desa wisata sebagai laboratorium sosial untuk menguji ide, inovasi, sekaligus membangun dampak nyata bagi masyarakat.
Salah satu peserta bahkan mengaku harus berdiskusi hingga larut malam selama beberapa hari demi menyusun proposal yang dianggap mampu menjawab kebutuhan desa tujuan.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengatakan program ini menjadi wadah yang mempertemukan ide-ide inovatif mahasiswa dengan kebutuhan nyata masyarakat desa.
"Melalui Genera-Z Berbakti, kami berupaya menjembatani serta menghubungkan ide kreatif dan inovatif dari mahasiswa dengan masyarakat di berbagai desa wisata binaan Bakti BCA. Kami yakin program ini dapat membawa dampak positif bagi mahasiswa serta masyarakat di daerah tujuan," ujar Hera.
Menurut dia, kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi bonus demografi dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Dengan tingginya minat mahasiswa dari berbagai kampus besar, desa wisata kini tak lagi hanya menjadi destinasi pelancong. Bagi generasi muda, desa-desa tersebut juga menjadi ruang belajar untuk membuktikan bahwa ide yang mereka miliki dapat diterapkan secara langsung dan memberi manfaat bagi masyarakat.



