20 Gempa Susulan Guncang Palu Sulteng usai Gempa M6,7, Terbesar Magnitudo 5,2
JAKARTA, iNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi 20 kali gempa susulan usai gempa bumi bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026) pagi. Gempa tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal.
Gempa bumi tersebut dipicu oleh aktivitas aktif Sesar Sausu dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault). Kendati guncangan berpusat di darat dan merusak sejumlah bangunan, BMKG memastikan fenomena ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar mencapai M5,2. Hingga Selasa siang pukul 12.00 WIB, instrumen BMKG mencatat tren kegempaan di sekitar Sesar Sausu masih cukup aktif namun terus melandai.
“Kami berharap frekuensinya akan semakin sedikit dan kekuatannya terus melemah,” papar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.
Gempa bumi tektonik ini terjadi tepat pada pukul 10.27.44 WIB. Episentrum berada pada koordinat 1,03° LS dan 120,24° BT. Lokasi di darat, berjarak sekitar 42 kilometer arah Tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kedalaman 16 kilometer.
“Hasil pemodelan secara komprehensif menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Kami mengimbau masyarakat di sepanjang pesisir pantai untuk tetap tenang,” kata Nelly Florida Riama di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Guncangan gempa bumi ini dirasakan meluas di beberapa kabupaten di Sulawesi Tengah dengan tingkat intensitas atau skala Modified Mercalli Intensity (MMI) yang bervariasi.
Skala VII MMI (Sangat Kuat): Melanda wilayah Palolo dan Sigi. Guncangan pada skala ini mampu membuat dinding rumah retak hingga merobohkan cerobong atau bangunan semipermanen. Skala VI - VII MMI: Dirasakan di Torue dan Parigi Selatan. Skala V - VI MMI: Meluas hingga ke Kota Sigi Biromaru dan Kota Palu. Skala IV - V MMI: Dirasakan di Kota Poso, Donggala, hingga Pasangkayu.
4 Kombes Digeser Jadi Dirreskrimum Polda pada Mutasi Mei 2026, Ada Wadirtipidter Bareskrim Polri
Dampak kerusakan fisik bangunan dilaporkan paling parah melanda wilayah Sigi (VII MMI), disusul area Kota Palu, Parigi Utara, dan Poso pada skala intensitas VI MMI. Kerusakan ringan juga dilaporkan terjadi di Parigi Moutong, Banawa Selatan, Sindue, Balaesang, hingga Masamba.
Guna menjamin keselamatan warga pesisir, tim teknis BMKG terus memantau stasiun pasang surut (tide gauge) di sekitar pusat gempa secara berkala. Hasilnya, perairan di Parigi dan Poso terpantau nihil pergerakan air laut yang mencurigakan.
Meskipun sensor di Pelabuhan Pantoloan sempat mencatat sedikit kenaikan muka air laut setinggi 7,5 cm, BMKG menegaskan fluktuasi kecil tersebut normal dan sama sekali tidak berbahaya.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menegaskan pihaknya telah menerjunkan tim khusus ke lokasi bencana untuk melakukan survei mikrozonasi dan meninjau langsung kerusakan di lapangan.
Merespons bencana ini, BMKG meminta masyarakat untuk tidak termakan isu hoaks atau informasi tsunami yang tidak jelas sumbernya. Warga diwajibkan menjauhi bangunan yang sudah mengalami retak-retak demi mengantisipasi risiko roboh jika terjadi gempa susulan.
Masyarakat diminta selalu memantau informasi terkini lewat kanal resmi terverifikasi seperti aplikasi infobmkg, situs resmi bmkg.go.id, atau media sosial @infoBMKG.









