BRInita Perkuat Pengembangan Kebun Gangnam di Jakut, Jadi Ruang Produktif Warga
JAKARTA, iNews.id - Hamparan sayuran hijau yang tumbuh subur di Kebun Pegangsaan Dua Menanam (Gangnam), Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyimpan cerita panjang. Kebun tersebut merupakan hasil transformasi lahan telantar menjadi ruang produktif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di atas lahan seluas sekitar 1.330 meter persegi itu, tumbuh berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Warga datang untuk membeli hasil panen, belajar bercocok tanam, hingga mengikuti berbagai kegiatan edukasi lingkungan.
Tak hanya itu, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari upaya penanganan stunting melalui budidaya lele yang hasilnya diolah menjadi makanan bergizi bagi balita.
Padahal, menurut Lurah Pegangsaan Dua Sarmudi, kondisi kawasan tersebut jauh berbeda beberapa tahun lalu.
“Dulu lokasi ini semak belukar, banyak bedeng-bedeng liar, banyak puing-puing, banyak sampah. Pokoknya kalau orang lewat sini melihat ke sini matanya sakit,” kata Sarmudi saat ditemui iNews.id pada Kamis (4/6/2026).
Transformasi lahan menjadi Kebun Gangnam dimulai pada September 2023 melalui program penataan kawasan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Berbagai instansi teknis dilibatkan untuk mengubah lahan yang semula tidak produktif itu menjadi area pertanian perkotaan atau urban farming.
Sarmudi mengatakan prosesnya tidak mudah. Kondisi tanah yang didominasi bebatuan membuat kawasan tersebut harus diratakan terlebih dahulu menggunakan alat berat sebelum ditimbun tanah yang layak untuk budidaya tanaman.
“Dulu tanah bawahnya bebatuan, bukan langsung tanah. Jadi diratakan dulu pakai alat berat, baru di atasnya diberikan tanah merah supaya bisa ditanami,” ujarnya.
Setelah penataan kawasan selesai, Kelurahan Pegangsaan Dua bersama kelompok tani mulai mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Menurut Sarmudi, Kebun Gangnam memiliki sekitar 70 jenis tanaman yang ditanam secara bergantian sesuai musim dan kebutuhan pasar.
“Kalau bulan ini terong, bulan berikutnya cabai. Kalau menjelang Ramadan biasanya kita tanam timun suri. Jadi bergantian,” kata Sarmudi.
Meski memiliki banyak jenis tanaman, kangkung dan pakcoi menjadi komoditas yang paling rutin dibudidayakan. Kangkung ditanam langsung di lahan tanah, sementara pakcoi dikembangkan melalui sistem hidroponik.
“Kangkung hampir setiap bulan kita tanam. Setelah panen tanahnya digemburkan lagi lalu ditanam kembali,” ujarnya.
Hasil panen Kebun Gangnam bahkan sempat disalurkan ke salah satu rumah makan di kawasan Jakarta Utara. Kangkung dan berbagai jenis sayuran lainnya langsung dikirim ke rumah makan tersebut begitu dipanen.
Selain itu, hasil panen juga dinikmati masyarakat sekitar. Setiap Jumat, Kelompok Tani Gangnam menggelar program Jumat Berkah yang memungkinkan warga membawa pulang sayuran secara gratis.
“Kalau hari Jumat warga yang datang olahraga atau berkunjung boleh ambil sayuran gratis,” ujarnya.
Sementara pada hari biasa, warga dapat membeli hasil panen langsung dari kebun. Bahkan pengunjung diperbolehkan memetik sendiri sayuran yang ingin dibeli sebelum ditimbang dan dibayar secara non-tunai menggunakan mesin EDC BRI.
“Kalau ada yang mau beli silakan petik sendiri. Setelah itu ditimbang dan bisa bayar non-cash,” katanya.
Dukungan BRInita Perkuat Pengembangan Kebun
Perkembangan Kebun Gangnam semakin pesat setelah mendapat dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli, yakni BRI Bertani di Kota (BRInita). Menurut Sarmudi, bantuan tersebut tidak hanya berupa sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kapasitas bagi para pengelola kebun.
“Pernah ada pelatihan dari BRI terkait cara menanam, memelihara tanaman, sampai bagaimana menjaga kesuburan tanah setelah panen,” ujarnya.
Pelatihan tersebut dinilai penting karena produktivitas lahan tidak hanya ditentukan oleh proses tanam dan panen, tetapi juga bagaimana tanah diregenerasi agar tetap subur.
“Nah itu juga ada pelatihannya. Jadi tanahnya tidak terus-menerus dipakai tanpa perawatan karena nanti kesuburannya berkurang,” kata Sarmudi.
Selain mendukung kegiatan pertanian, kawasan ini juga berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat. Warga maupun anak-anak sekolah yang ingin belajar bercocok tanam dapat mendaftar melalui akun media sosial Kebun Gangnam dan mengikuti kegiatan edukasi secara terjadwal.
Di kawasan tersebut juga telah tersedia rumah edukasi yang digunakan sebagai ruang pembelajaran sebelum peserta melakukan praktik langsung di kebun.
“Kalau warga atau sekolah mau belajar tentang cara menanam sayuran dan buah-buahan bisa datang ke sini. Bahkan kita kasih bibitnya juga untuk ditanam di rumah,” ujarnya.
Sarmudi menilai dukungan BRI memberikan manfaat besar karena membantu memperluas fungsi Kebun Gangnam. Dia mengatakan Kebun Gangnam bukan hanya sebagai tempat produksi pangan, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat.
“Sangat bermanfaat tentunya (dukungan BRI), karena keberadaan Kebun Gangnam ini bisa memberikan dampak bagi warga sekitar. Di Jakarta lahan sangat terbatas, tapi warga bisa belajar memanfaatkan pekarangan sempit untuk bercocok tanam,” katanya.
Fasilitas dari BRInita Tingkatkan Produktivitas Kelompok Tani
Manfaat program BRInita juga dirasakan langsung oleh Kelompok Tani Gangnam yang sehari-hari mengelola kawasan tersebut.
Koordinator Lapangan Kelompok Tani Gangnam Yunus Banul mengatakan bantuan dari BRI mewujudkan sejumlah fasilitas yang belum dimiliki kelompok tani. Menurut dia, bantuan yang diberikan mencakup rak budidaya tanaman, rumah bibit, dan kandang ayam.
“Jadi tadinya kita enggak punya rak melon ini. Memang cita-citanya mau ada dan akhirnya dibantu oleh BRI. Alhamdulillah sekarang sudah dua kali panen,” ujar Yunus kepada iNews.id.
Fasilitas tersebut diberikan sekitar tujuh bulan lalu setelah kelompok tani mengajukan proposal pengembangan kepada BRI.
Tak hanya bantuan fisik, Kelompok Tani Gangnam juga memperoleh berbagai pelatihan teknis yang mendukung peningkatan produktivitas.
“Ada pelatihan budidaya lele, pelatihan ternak ayam, sampai pelatihan melon. Jadi dari pembenihan sampai panen diajarkan,” kata Yunus.
Berkat dukungan tersebut, Kelompok Tani Gangnam kini mampu mengembangkan berbagai komoditas pertanian dan perikanan yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Sebagian besar hasil panen dijual kepada warga sekitar dengan harga terjangkau. Kangkung misalnya dijual sekitar Rp15.000 per kilogram, sementara pakcoi sekitar Rp12.000 per kilogram.
“Kalau satu ikat biasanya Rp3.000 sampai Rp5.000 tergantung jenis sayurannya,” ujar Yunus.
Selain sayuran, Kelompok Tani Gangnam juga mengembangkan melon dan jagung ketan yang cukup diminati masyarakat.
“Kalau jagung ketan yang sekarang bahkan sudah dipesan semua sebelum panen,” katanya.
Dukungan BRI Dorong Ketahanan Pangan
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota kelompok tani maupun masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny.
Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi sekaligus menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.









