Harga Minyak Dunia Rontok Imbas AS-Iran Buka Peluang segera Berdamai
LONDON, iNews.id - Harga minyak dunia rontok setelah muncul sinyal terbaru soal peluang kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berubah-ubah membuat pasar global masih diliputi ketidakpastian.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin (25/5/2026), minyak mentah Brent, yang menjadi acuan utama harga minyak global, turun lebih dari 5 persen pada Minggu, 24 Mei 2026. setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal yang beragam terkait peluang berakhirnya konflik secara permanen.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juli tercatat berada di level 97,94 dolar AS per barel per pukul 04.00 GMT. Angka itu turun sekitar 9 persen dibandingkan sebulan lalu, namun masih lebih tinggi lebih dari sepertiga dibandingkan sebelum perang pecah.
Di sisi lain, indeks saham acuan Jepang, Nikkei 225, melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan pagi dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, setelah sebelumnya juga ditutup di level tertinggi pada Jumat lalu.
Trump melalui unggahan di media sosial pada Minggu mengatakan, negosiasi dengan Teheran berjalan secara tertib dan konstruktif. Meski demikian, dia mengaku telah menginstruksikan para pejabat agar tidak terburu-buru mencapai kesepakatan.
"Kedua pihak harus meluangkan waktu dan memastikan semuanya benar. Tidak boleh ada kesalahan!" tulis Trump di platform Truth Social.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump memunculkan optimisme soal kemungkinan terobosan baru. Pada Sabtu lalu, dia menyatakan kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
"Pada dasarnya tidak ada perubahan terhadap gambaran utama, di mana sekitar 10-11 juta barel minyak mentah per hari masih tertahan selama Selat Hormuz tetap ditutup," ujar analis senior pasar minyak Sparta di Singapura, June Goh, kepada Al Jazeera.
"Namun pasar memperkirakan sekitar 100 juta barel minyak mentah dari kapal-kapal yang tertahan akan mulai mengalir begitu kesepakatan diberlakukan," lanjutnya.
Goh menilai pasar masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu setelah kesepakatan benar-benar disahkan.
"Perkiraan Sparta menunjukkan dibutuhkan sekitar tiga hingga enam bulan untuk mengembalikan semuanya ke kondisi normal, termasuk waktu yang diperlukan untuk menghidupkan kembali produksi dan kilang minyak," kata Goh.
Iran diketahui secara efektif memblokade Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. Situasi itu mengganggu sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Sementara itu, AS juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak pertengahan April, yang semakin menghambat aktivitas pelayaran komersial di jalur tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump menegaskan blokade AS akan tetap berlaku penuh hingga kesepakatan dicapai, disertifikasi, dan ditandatangani.










