Inspiratif! Maudy Ayunda Bangun Ruang Belajar Sementara di Aceh Timur
ACEH TIMUR, iNews.id – Suara tawa anak-anak kembali terdengar dari ruang belajar sederhana di Aceh Timur. Di tengah dinding kelas yang masih polos dan fasilitas seadanya, semangat belajar perlahan tumbuh lagi setelah banjir sempat memporak-porandakan kehidupan mereka.
Di ruangan itu, artis Maudy Ayunda duduk berjongkok sejajar dengan para murid. Mengenakan rompi merah marun dan hijab biru tua, dia menyapa anak-anak satu per satu dengan senyum hangat. Sinar matahari yang masuk dari jendela besar menambah suasana akrab di ruang belajar sementara tersebut.
Anak-anak tampak antusias mengerubungi aktris film Para Perasuk itu. Sebagian memegang buku, sebagian lainnya duduk rapi sambil memandang penuh rasa penasaran. Tas sekolah merah tersandar di samping meja belajar biru putih yang tampak baru digunakan kembali pascabanjir.
Kehadiran Maudy bukan sekadar kunjungan simbolis. Dia datang membawa semangat baru bagi anak-anak yang sempat kehilangan ruang belajar akibat bencana.
Suasana semakin hidup ketika lulusan Stanford University itu memasuki kelas lain yang dipenuhi puluhan murid. Duduk di kursi kecil, Maudy membacakan cerita menggunakan mikrofon hitam sambil sesekali mengajak anak-anak berdialog. Mata para siswa berbinar mengikuti dongeng yang dibacakannya.
Beberapa anak terlihat paling antusias. Mereka duduk di barisan depan sambil memeluk makanan ringan yang dibagikan. Ada yang aktif mengangkat tangan untuk bertanya, ada pula yang hanya diam terpaku mendengarkan cerita dengan serius.
Di sela kegiatan, Maudy beberapa kali membungkukkan badan agar bisa mendengar cerita anak-anak lebih dekat. Dia juga menyempatkan diri berdiskusi dengan guru dan warga sekitar mengenai kondisi pendidikan pascabencana.
"Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar," ujar Maudy dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, persoalan terbesar setelah bencana bukan hanya kerusakan bangunan sekolah, tetapi hilangnya akses pendidikan bagi anak-anak. Banyak keluarga masih kesulitan transportasi, merasa khawatir soal keamanan, hingga belum mampu kembali menjalani aktivitas belajar secara normal.
"Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya setiap anak tetap berhak mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun," tuturnya.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per Februari 2026 menunjukkan dampak banjir di Aceh cukup besar. Sebanyak 3.120 sekolah di Aceh terdampak bencana, dengan lebih dari 707 ribu murid serta puluhan ribu guru ikut merasakan gangguan proses pembelajaran.
Melihat kondisi tersebut, Maudy Ayunda Foundation bersama Save the Children Indonesia menghadirkan program Temporary Learning Space atau Ruang Belajar Sementara bagi anak-anak terdampak banjir di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Program itu tidak hanya menyediakan ruang belajar darurat, tetapi juga dukungan literasi dan pendampingan psikososial agar anak-anak bisa kembali merasa aman dan nyaman saat belajar.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar mengatakan, proses belajar menjadi bagian penting dalam pemulihan mental anak-anak korban bencana.
"Belajar kembali adalah keberanian anak-anak untuk pulih," katanya.
Di tengah ruang kelas bercat kusam dan meja kayu lama yang masih digunakan, senyum anak-anak Aceh Timur perlahan kembali merekah. Kehadiran Maudy Ayunda hari itu seolah menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap bisa menghadirkan harapan, bahkan setelah bencana datang menghancurkan banyak hal.










