Ketum Gerakan Cinta Prabowo: Film Pesta Babi Provokatif, Tidak Berimbang!

Ketum Gerakan Cinta Prabowo: Film Pesta Babi Provokatif, Tidak Berimbang!

Terkini | inews | Selasa, 19 Mei 2026 - 22:03
share

JAKARTA, iNews.id - Ketua Umum (Ketum) Gerakan Cinta Prabowo, H Kurniawan menilai film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale bersifat provokatif karena dinilai lebih banyak menyoroti sisi negatif pembangunan di Papua. Menurut Kurniawan, film itu tidak menampilkan secara utuh berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan pemerintah di Papua.

“Di sini yang tidak berimbang masalah film itu tadi. Di sini tidak memunculkan apa saja yang dilakukan pemerintahan, dari mulai Presiden sebelumnya sampai Presiden Prabowo saat ini, itu seolah-olah pemerintah itu tidak punya prestasi di Papua,” kata Kurniawan dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Ada Apa di Balik Film Pesta Babi?' yang disiarkan iNews, Selasa (19/5/2026).

Dia mencontohkan pembangunan infrastruktur yang telah membuka akses di Papua, termasuk jalan yang menghubungkan wilayah Sorong hingga Jayapura. Kurniawan juga menilai pembangunan perkebunan dan pembukaan lahan pertanian di Papua dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan wilayah di masa depan.

“Saya yakin ke depannya setelah terbukanya perkebunan kelapa sawit maupun sawah baru, saya yakin ke depannya Papua pun bisa mengimbangi provinsi-provinsi lainnya,” tutur dia.

Menurutnya, tidak semua penonton memiliki pemahaman yang sama terhadap pesan yang disampaikan dalam film dokumenter tersebut. Karena itu, dia menilai isi Pesta Babi berpotensi menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

“Ini tidak boleh terjadi, karena pemahaman dari film ini, nggak semua orang yang nonton film ini bisa memahami maksud dan tujuan dari adegan-adegan yang ada di film itu,” katanya.

Kurniawan mengatakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus berupaya merangkul masyarakat Papua meski diakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam proses pembangunan.

“Prabowo merangkul semuanya. Kalaupun terjadi kekurangan-kekurangan, tentu akan menjadi evaluasi supaya ke depannya bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Dia juga mempertanyakan arah pesan yang ingin dibangun dalam film tersebut. Sebab, dia menilai film itu hanya menonjolkan persoalan yang terjadi di Papua tanpa memberikan ruang terhadap capaian pembangunan pemerintah.

“Jadi intinya saya garis bawahi bahwa apa yang dilakukan pemerintah di Papua harus diapresiasi juga dong ya, jangan semua salah,” katanya.

Topik Menarik