Fenomena Lipstick Effect, Rupiah Melemah tapi Mal dan Kafe Tetap Penuh

Fenomena Lipstick Effect, Rupiah Melemah tapi Mal dan Kafe Tetap Penuh

Terkini | inews | Selasa, 19 Mei 2026 - 17:32
share

JAKARTA, iNews.id - Belakangan ini media sosial ramai membahas fenomena “lipstick effect” di tengah melemahnya nilai tukar rupiah dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Istilah tersebut menjadi sorotan setelah muncul anggapan pusat perbelanjaan, restoran, hingga coffee shop tetap dipadati pengunjung meski kondisi ekonomi disebut sedang tidak baik-baik saja.

Fenomena ini panas diperbincangkan usai akun X bernama @TwipsX mengunggah penjelasan soal kondisi tersebut. Dalam unggahannya, akun itu menyoroti bagaimana masyarakat masih terlihat aktif berbelanja dan mencari hiburan kecil meski daya beli disebut mulai tertekan.

“Kalian ngerasa nggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.

Istilah lipstick effect sendiri pertama kali populer setelah diamati perusahaan kosmetik Estée Lauder ketika Amerika Serikat mengalami resesi pada 2001 usai tragedi 9/11. Saat itu, penjualan barang-barang mewah bernilai besar mengalami penurunan.

Namun di sisi lain, produk kecil seperti lipstik dan kosmetik justru mengalami peningkatan penjualan. Kondisi itu kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat saat ekonomi sedang sulit.

Dalam situasi penuh tekanan, masyarakat cenderung menahan pembelian besar seperti mobil atau liburan mahal. Sebagai gantinya, mereka tetap membeli hiburan kecil atau kebutuhan yang dianggap masih terjangkau untuk menjaga suasana hati.

Fenomena tersebut dinilai kini mulai terlihat di Indonesia. Masyarakat masih ramai nongkrong di kafe, staycation, membeli skincare hingga gadget meski kondisi ekonomi sedang dibayangi pelemahan rupiah dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Orang nggak beli mobil baru, tapi beli kopi Rp80 ribu. Orang nggak liburan ke Jepang, tapi staycation di hotel bintang tiga,” tulis akun itu.

Dalam unggahan tersebut dijelaskan, ramainya pusat perbelanjaan atau coffee shop belum tentu menjadi indikator ekonomi sedang baik. Sebaliknya, kondisi itu disebut sebagai bentuk pelarian masyarakat dari tekanan hidup dan kondisi ekonomi yang semakin berat.

“Mall rame bukan karena ekonomi baik. Mall rame karena orang butuh pelarian murah dari kenyataan yang mulai berat,” kata unggahan tersebut.

Selain itu, sejumlah indikator disebut menunjukkan tekanan ekonomi masih terjadi. Mulai dari melemahnya rupiah, perlambatan konsumsi rumah tangga, hingga meningkatnya PHK di beberapa sektor industri.

Fenomena lipstick effect juga disebut berpotensi menciptakan ilusi bahwa ekonomi tetap stabil. Sebab, aktivitas konsumsi masih terlihat tinggi di permukaan meski sebagian masyarakat mulai mengandalkan utang atau menguras tabungan demi mempertahankan gaya hidup.

“Keramaian di permukaan tidak selalu berarti fondasi yang kuat,” tulis akun tersebut lagi.

Sebab itu, masyarakat diingatkan untuk lebih bijak mengatur keuangan di tengah situasi ekonomi saat ini. Beberapa langkah yang disarankan antara lain mencatat pengeluaran rutin kecil, memperkuat dana darurat, hingga mengurangi utang konsumtif agar kondisi finansial tetap aman.

Topik Menarik