Santri Ponpes di Pelalawan Kritis Dianiaya Kakak Kelas, Diduga Perkara Nonton Film di HP

Santri Ponpes di Pelalawan Kritis Dianiaya Kakak Kelas, Diduga Perkara Nonton Film di HP

Nasional | inews | Kamis, 14 Mei 2026 - 20:46
share

PELALAWAN, iNews.id – Nasib nahas menimpa seorang santri berinisial TK (16) di Pondok Pesantren Hidayatul Ma'arifiyah, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Pelajar kelas 1 Madrasah Aliyah (setingkat SMA) ini harus terbaring koma di rumah sakit usai dikeroyok oleh empat orang kakak kelasnya.

Ironisnya, aksi penganiayaan brutal yang mencoreng dunia pendidikan tersebut dipicu oleh masalah sepele, yakni korban ketahuan menonton film dari telepon genggam (HP) milik pelaku tanpa meminjam terlebih dahulu.

Kepala Pondok Pesantren Hidayatul Ma'arifiyah, Ustadz Zepri, mengungkapkan bahwa peristiwa memilukan itu terjadi pada Senin (11/5/2026) malam, sekitar pukul 22.30 WIB. 

Saat itu, korban yang merupakan warga asal Kecamatan Teluk Meranti secara diam-diam menggunakan HP milik kakak kelasnya untuk menonton film.

Mengetahui gawainya dipakai korban, pelaku emosi dan langsung memanggil tiga temannya yang lain. Tanpa basa-basi, keempat senior tersebut menganiaya korban di dalam kamar asrama.

"Kebetulan di kamar itu cuma ada mereka, sedangkan murid-murid yang lain tengah belajar di lokal lain. Korban langsung dipukuli oleh keempat pelaku hingga babak belur," ujar Ustadz Zepri, Kamis (14/5/2026). 

Melihat korban terkapar tak sadarkan diri akibat rentetan pukulan, para pelaku panik dan ketakutan. Mereka lantas memanggil salah satu ustadz yang sedang berjaga malam itu.

Korban TK langsung dilarikan ke Rumah Sakit Efarina di Kota Pangkalan Kerinci. Namun, karena kondisinya sangat kritis dan peralatan medis yang kurang memadai, korban akhirnya dirujuk ke RSUD Arifin Achmad di Pekanbaru.

Hingga Kamis (14/5/2026) atau memasuki hari ketiga pasca-kejadian, korban masih belum sadarkan diri dan harus dirawat intensif di ruang khusus Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD Arifin Achmad.

Pelaku Dikembalikan ke Orang Tua

Menyikapi insiden kekerasan ini, pihak pondok pesantren telah mengambil langkah awal dengan mengembalikan keempat pelaku kepada orang tuanya masing-masing. Ustadz Zepri menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi aksi kekerasan di lingkungan pesantren.

"Keempat pelaku saat ini dikembalikan kepada orang tuanya. Nanti kalau terbukti keempatnya bersalah, maka pihak pesantren akan memberikan sanksi keras," katanya.

Di sisi lain, keluarga korban masih syok berat mendapati buah hatinya terbaring koma. Pasalnya, beberapa hari sebelum kejadian, mereka baru saja mengunjungi TK dan kondisinya masih baik-baik saja.

Hingga kini, pihak keluarga korban dilaporkan belum menentukan sikap atau langkah hukum selanjutnya atas tragedi yang menimpa anak mereka.

Topik Menarik