Perusahaan Migas Raup Untung Besar Berkat Perang AS-Iran
JAKARTA, iNews.id - Perusahaan minyak dan gas (migas) di dunia meraup keuntungan besar berkat perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Pasalnya, perang tersebut turut mengerek kenaikan harga minyak mentah dunia.
Melansir BBC, patokan minyak internasional Brent naik 3,8 persen menjadi 105,20 dolar AS per barel, Senin (11/5/2026). Sementara, minyak mentah yang diperdagangkan di AS naik 4 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.
Ketidakpastian yang dipicu oleh perang di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, mendorong kenaikan biaya hidup dan membebani anggaran perusahaan, keluarga, dan pemerintah.
Sementara beberapa perusahaan terdorong ke ambang kehancuran, perusahaan lain, yang bisnis intinya lebih menguntungkan dalam perang atau yang diuntungkan dari fluktuasi harga energi, telah mencatatkan pendapatan rekor.
Dampak ekonomi terbesar dari perang sejauh ini adalah lonjakan harga energi. Sekitar seperlima minyak dan gas dunia diangkut melalui Selat Hormuz, tetapi pengiriman tersebut secara efektif terhenti pada akhir Februari lalu.
Akibatnya, terjadi fluktuasi harga yang sangat besar di pasar energi, dengan beberapa perusahaan migas terbesar di dunia mendapatkan keuntungan.
Perusahaan migas Arab Saudi, Aramco melaporkan peningkatan laba kuartal pertama 2026 sebesar 26 persen menjadi 33,6 miliar dolar AS dibanding tahun sebelumnya, 26,6 miliar dolar AS.
Kenaikan ini didorong jalur pipa utama yang memungkinkan mereka untuk menghindari kemacetan di Selat Hormuz telah mencapai kapasitas penuh.
“Jalur Pipa Timur-Barat kami, yang telah mencapai kapasitas maksimum 7 juta barel minyak per hari, telah terbukti menjadi jalur pasokan penting, membantu mengurangi dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak kendala pengiriman di Selat Hormuz,” ujar CEO Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan.
Selain itu, sejumlah raksasa migas Eropa juga mencatatkan kenaikan laba pada kuartal pertama tahun ini.
Laba British Petroleum (BP) meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dolar AS untuk tiga bulan pertama tahun ini. Kemudian, Shell juga mencatat laba bersih kuartal I 2026 melesat menjadi 6,92 miliar dolar AS.
Raksasa internasional lainnya, TotalEnergies mencatatkan labanya melonjak hampir sepertiga, menjadi 5,4 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun 2026. Kenaikan ini didorong volatilitas di pasar minyak dan energi.
Sementara itu, pendapatan raksasa migas AS, ExxonMobil dan Chevron turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu imbas gangguan pasokan dari Timur Tengah. Namun, analis memperkirakan laba kedua perusahaan akan tumbuh lebih lanjut seiring berjalannya tahun ini, dengan harga minyak masih jauh lebih tinggi daripada ketika perang pecah.










