KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko

Ekonomi | inews | Minggu, 10 Mei 2026 - 13:06
share

JAKARTA, iNews.id - Asap tampak mengepul dari sudut salah satu ruko di kawasan Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, meski jam makan siang sudah lewat. Moch Haidir, pemilik Sate Ayam Barokah Mayestik, tampak sibuk membakar sate sambil sesekali menyapa pelanggan yang datang.

Tak banyak yang tahu, Haidir semula berjualan di trotoar Jalan Kiai Maja, seberang Pasar Mayestik. Pria berusia 30 tahun itu bahkan mengaku sempat berkali-kali dikejar Satpol PP demi mempertahankan lapak kecilnya.

Kini, usaha yang dirintis Haidir sejak 2013 itu berkembang pesat. Penjualan sate yang dulu hanya ratusan tusuk kini mencapai 2.000 tusuk dengan omzet hingga Rp8 juta per hari. Haidir menyebut, salah satu titik balik terbesar dalam perjalanan usahanya terjadi saat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.

“Kalau enggak ada KUR dari BRI enggak mungkin masuk ke ruko ini,” kata Haidir saat ditemui iNews.id pada Senin (13/4/2026) lalu.

Belajar Jualan dari Sang Ayah

Haidir lahir di Jakarta, namun sempat menempuh pendidikan di Madura sebelum kembali lagi ke ibu kota pada 2013. Selepas lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI), bapak satu anak itu mulai mengikuti jejak ayahnya yang lebih dulu berjualan sate.

“Pikiran saya karena sudah gak punya sekolah tinggi, jadi ngelihatin Bapak saya juga jualan sate kayaknya tujuan akhirnya di sate,” ujarnya.

Sate Ayam Barokah Mayestik milik Moch Haidir di Jalan Kiai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Foto: Rizky Agustian)

Sang ayah memang lebih dulu menekuni usaha sate di kawasan Kebayoran Lama. Dari situlah Haidir belajar mulai dari membakar sate hingga melayani pelanggan.

Keluarganya dulu tinggal di rumah kontrakan sederhana di kawasan Kebon Mangga. Namun berkat usaha sate, kondisi ekonomi keluarga perlahan berubah.

“Dulu ngontrak rumah, sekarang Alhamdulillah sudah dibeli rumah,” ujar Haidir.

Memulai dari Trotoar

Sate Ayam Barokah Mayestik yang kini ramai pelanggan ternyata dibangun dari proses panjang. Haidir mengaku awalnya tidak mudah mencari pelanggan tetap. Butuh waktu panjang hingga akhirnya usaha miliknya dikenal dan memiliki banyak pelanggan.

“Kalau lihatin proses dari awalnya, susah cari langganan, bisa 5 tahun, gak kayak sekarang,” katanya.

Saat pertama kali membuka usaha pada 2013, Haidir hanya berjualan di pinggir jalan menggunakan lapak sederhana di trotoar depan Pasar Mayestik. Bahkan, dia mengaku kerap terkena penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Di trotoar situ sampai saya sering dikejar-kejar Satpol PP,” katanya.

Namun Haidir memilih bertahan. Dia sadar lokasi Mayestik memiliki potensi besar karena dikelilingi kawasan perkantoran dan ramai saat jam makan siang. Sedikit demi sedikit pelanggan mulai datang. Nama Sate Ayam Barokah Mayestik pun mulai dikenal.

Menurut Haidir, mempertahankan lokasi menjadi penting karena pelanggan biasanya sulit berpindah mengikuti tempat baru.

“Kalau misalnya disewa ke orang saya gak punya nama lagi di Mayestik. Mau pindah ke mana jualan. Soalnya kalau sudah punya nama, sudah punya langganan, nyari lagi susah. Jangankan pindah jauh, pindah dekat pun sudah berubah,” katanya.

Keputusan Besar Menyewa Ruko

Kesempatan besar datang saat Haidir ditawari menyewa ruko persis di belakang trotoar lokasi tempatnya biasa berjualan. Namun, harga sewanya sangat tinggi, mencapai Rp200 juta per tahun. Bagi Haidir, keputusan itu penuh risiko.

“Saya kemarin antara maju harus berani bayar utang, mundur gak ada perkembangan,” ujarnya.

Dia mengaku sempat mendapat tawaran modal dari pihak lain. Akan tetapi, dia memilih mencari jalan lain karena tawaran modal itu mewajibkannya berbagi keuntungan sama rata.

“Ada yang nawarin kemarin modal, tapi minta bagi hasil 50-50. Makanya saya daripada bagi hasil sama orang, mending saya ambil BRI sajalah,” katanya.

Akhirnya Haidir mengajukan KUR BRI dengan jaminan sertifikat rumah istrinya. Dari pengajuan tersebut, dia memperoleh pinjaman Rp200 juta dengan cicilan Rp3 jutaan per bulan selama tiga tahun.

“Kemarin saya pakai sertifikat rumah istri saya, dapat Rp200 juta,” ujarnya.

Menurut Haidir, proses pengajuan di BRI yang cepat menjadi salah satu alasan dirinya memilih bank tersebut. Dana pinjaman itu langsung digunakan untuk membayar sewa ruko.

“BRI ini gak repot. Misalnya pengajuan kemarin, saya hari ini isi data, besoknya sudah akad,” kata Haidir.

Mimpi Membuka Cabang

Setelah setahun menempati ruko tersebut, Haidir mulai memikirkan ekspansi usaha. Dia berencana kembali mengajukan tambahan plafon KUR BRI untuk membuka cabang baru.

Kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menjadi salah satu lokasi yang diincarnya. Sebab, dia menilai daerah itu ramai anak muda.

“Karena sekarang banyakan anak-anak muda itu nongkrongnya pada di Blok M,” katanya.

Meski telah naik kelas, Haidir mengaku tak pernah melupakan masa-masa sulit saat memulai usaha dari trotoar. Keberhasilan Sate Ayam Barokah Mayestik baginya bukan datang secara instan, melainkan buah dari proses panjang selama bertahun-tahun.

“Untungnya sudah sekian, omzetnya sudah sekian, tapi prosesnya dari 2013 sampai ke titik sini tuh butuh perjuangan,” ujarnya.

Sate Ayam Barokah Mayestik nyaris tak pernah sepi pelanggan. Salah satu pelanggan setianya, Tono, mengaku rutin makan di tempat tersebut.

Tono yang berprofesi sebagai pegawai swasta mengatakan pertama kali mengenal Sate Ayam Barokah Mayestik saat Haidir masih berjualan di pinggir jalan. Menurut dia, rasa sate yang konsisten menjadi alasan utama dirinya tetap datang hingga sekarang.

“Dari masih di trotoar saya sudah makan di sini. Rasanya dari dulu enggak berubah, malah sekarang tempatnya lebih nyaman,” kata Tono.

Dia menilai perpindahan Sate Ayam Barokah Mayestik ke ruko membuat suasana makan jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Selain lebih bersih dan luas, pelanggan juga lebih nyaman saat makan bersama keluarga maupun rekan kerja.

Tono mengatakan pelayanan langsung dari Haidir menjadi nilai lebih yang membuat pelanggan tetap bertahan. Dia mengaku sering melihat pelanggan mencari Haidir secara langsung ketika datang ke warung sate tersebut.

“Kalau Mas Haidir lagi enggak kelihatan biasanya pelanggan suka nanya. Soalnya memang pelayanannya ramah dan udah hafal pelanggan tetap,” ujarnya.

KUR BRI Dorong UMKM Naik Kelas

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan BRI menjadi penyalur terbesar KUR di Indonesia secara konsisten. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI menyalurkan KUR senilai Rp47,09 triliun kepada sekitar 947.000 nasabah.

Menurut Hery, total penyaluran itu merupakan pendorong produktivitas hingga peningkatan kapasitas UMKM.

“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” ujar Hery dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta pada Kamis (30/4/2026).

Dia menjelaskan sektor pertanian menjadi kontributor utama. Jumlah pembiayaan mencapai Rp19,86 triliun atau setara 42,16 persen dari total KUR yang telah disalurkan.

Secara total, kata dia, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI menunjukkan pertumbuhan yang solid. Kredit dan pembiayaan meningkat menjadi Rp1.562 triliun atau sebesar 13,7 persen year-on-year (YoY).

“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp1.211 triliun,” ujar Hery.

Topik Menarik