Harga Oli Mobil dan Motor Bisa Terus Naik, Produsen Mulai Kencangkan Ikat Pinggang

Harga Oli Mobil dan Motor Bisa Terus Naik, Produsen Mulai Kencangkan Ikat Pinggang

Otomotif | inews | Kamis, 7 Mei 2026 - 20:06
share

JAKARTA, iNews.id - Pasar pelumas alias oli tengah menghadapi tekanan besar di tengah ketidakpastian geopolitik serta fluktuasi harga minyak mentah dunia. Konflik di Timur Tengah, ancaman gangguan distribusi energi di Selat Hormuz, hingga ketegangan perdagangan global membuat industri pelumas berada dalam situasi penuh tantangan.

Kenaikan harga minyak mentah menjadi faktor utama yang memengaruhi industri pelumas. Sebab, base oil atau bahan baku utama pelumas berasal dari turunan minyak bumi.

Ketika harga crude oil melonjak akibat konflik geopolitik, biaya produksi oli mobil dan motor ikut terdongkrak. Bank Dunia bahkan memperkirakan harga minyak bisa menembus 115 dolar AS per barel apabila konflik berkepanjangan terus mengganggu pasokan global.

Di Indonesia, tekanan tersebut mulai dirasakan para pelaku industri. Sejumlah produsen oli mulai melakukan penyesuaian harga jual akibat kenaikan biaya bahan baku, logistik, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kondisi ini membuat pelaku industri harus mulai mengencangkan ikat pinggang demi menjaga stabilitas bisnis di tengah tekanan pasar yang terus meningkat.

Produsen pelumas Top 1 menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Head of Sales Division Top 1, Rahman Rahadian mengatakan penyesuaian harga sulit dihindari di tengah kondisi geopolitik saat ini.

“Terkait kondisi geopolitik, penyesuaian harga tentu tidak bisa dihindari sayangnya. Jadi karena selain harga juga terjadi kelangkaan dalam bahan baku,” kata Rahman.

Meski demikian, pihaknya masih optimistis kondisi pasar dapat terkendali hingga akhir tahun. “Prediksi kita sih mudah-mudahan sampai akhir tahun tidak ada satu hal yang bisa membuat sampai kita khawatir,” ujarnya.

Rahman mengungkapkan, kenaikan harga pelumas yang sudah diterapkan saat ini berada di kisaran 15 persen. Namun, dalam satu hingga dua bulan ke depan, kenaikan tambahan diperkirakan masih akan terjadi dan bahkan bisa melampaui 20 persen.

“Saat ini kenaikan yang sudah diberikan di angka sekitar 15 persen. Tapi kemungkinan besar dalam 1-2 bulan ke depan kita harus meningkatkan sekitar 15 sampai 20 persen lagi,” ucapnya.

Diketahui, kenaikan harga minyak mentah berdampak langsung pada industri pelumas karena sekitar 70–80 persen komponennya berasal dari base oil yang diolah dari minyak bumi. Ketika harga minyak meningkat, biaya produksi pelumas otomatis ikut terdongkrak.

“Karena secara umum harga bahan baku bisa lebih dari 50 persen. Dan itu dialami semua merek. Base oil-nya yang naik. Adiftif lebih karena USD (dolar AS). Mudah-mudahan tidak melewati angka 17 (Rp17.000-an),” kata Rahman.

Kenaikan harga pelumas juga dilakukan Motul. Managing Director PT Motul Indonesia Energy, Welmart Purba, mengatakan kebijakan tersebut diambil karena meningkatnya tekanan pada industri pelumas akibat dinamika geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.

“Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, meningkatnya biaya bahan baku utama produksi pelumas, serta lonjakan biaya logistik global,” kata Welmart dalam keterangan persnya.

Dia menegaskan, fluktuasi nilai tukar rupiah turut memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasok industri otomotif di Indonesia.

“Jadi untuk menghadapi situasi ini, PT Motul Indonesia Energy mengambil langkah strategis guna memastikan keberlanjutan pasokan produk, menjaga standar kualitas pelumas kelas dunia, serta menjamin dukungan layanan jangka panjang bagi seluruh konsumen dan mitra bisnis,” ucapnya.

Welmart menjelaskan penyesuaian harga dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar global saat ini. Kebijakan tersebut diharapkan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan keberlanjutan bisnis.

Topik Menarik