Purbaya: Saya Sebal Sama yang Bilang gegara Fiskal Rupiah Jeblok!
JAKARTA, iNews.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh kebijakan fiskal pemerintah. Sebaliknya, pengelolaan keuangan negara saat ini berada dalam kondisi terjaga.
Menurutnya, kritik yang mengaitkan kondisi fiskal dengan depresiasi rupiah muncul karena kurangnya pemahaman terhadap strategi pengelolaan kas yang sedang dijalankan oleh pemerintah.
"Selama ini pemerintah menjaga kondisi fiskal dengan sangat baik. Jadi yang (bilang) kebijakan fiskal kita aneh, dia nggak mengerti apa yang kita kerjakan, saya sebel sama yang bilang gara-gara fiskal rupiah jeblok," kata Purbaya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Salah satu terobosan yang disoroti Purbaya adalah pemindahan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Bank Indonesia ke perbankan nasional (Himbara). Langkah ini terbukti efektif dalam menggerakkan sektor produktif dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang berhasil mencapai 5,61 persen.
Purbaya menjelaskan bahwa strategi ini merupakan cara cerdas untuk menstimulasi ekonomi tanpa harus menambah belanja atau pengeluaran modal tambahan.
"Kamu tahu kenapa ekonomi bisa tumbuh lebih cepat? Kita manage uang lebih bagus. Jangan cuman pindahin cash aja dari BI ke situ, ekonomi tumbuh lebih cepat dan kita jaga itu. Tapi uangnya masih punya saya kan?” jelas Purbaya.
Pemerintah yakin dengan memanfaatkan dana negara yang ada untuk mendukung pembiayaan di perbankan, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas tanpa membebani APBN. Purbaya bahkan menyebut efisiensi ini sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa karena mampu mempercepat pertumbuhan secara mandiri.
"Artinya apa? Saya, kita, pemerintah, Pak Prabowo bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat tanpa pengeluaran uang tambahan. Uangnya masih utuh, itu ajaib sebetulnya," ujar Purbaya.
Eks Ketua DK LPS ini juga menjamin bahwa dana SAL yang ditempatkan di sistem perbankan tersebut tetap aman, utuh, dan tersedia untuk sewaktu-waktu dibutuhkan kembali oleh negara, sembari tetap menjalankan perannya sebagai penggerak likuiditas di sektor produktif.
"Masih, masih lengkap, nggak usah laporan ke saya. Yang penting ada di situ," pungkasnya.









