Presiden Federasi Blak-blakan Sebut Italia Tak Layak ke Piala Dunia 2026

Presiden Federasi Blak-blakan Sebut Italia Tak Layak ke Piala Dunia 2026

Olahraga | inews | Kamis, 30 April 2026 - 20:00
share

ROMA, iNews.id - Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 membuat Presiden Federasi Italia (FIGC) Gabriele Gravina mundur. Namun dia menegaskan tidak merasa gagal selama memimpin federasi.

Keputusan tersebut diambil setelah Italia kalah dari Bosnia dan Herzegovina pada final play-off Piala Dunia akhir Maret. Hasil itu membuat Italia kembali absen dari putaran final untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Gravina menegaskan pengunduran dirinya bukan karena tekanan. Dia menyebut keputusan tersebut murni berasal dari dirinya sendiri.

“Saya tidak dipaksa mundur, sama sekali tidak. Itu keputusan pribadi saya. Saya membuat komitmen kepada para penggemar sepak bola Italia untuk membawa tim ke Piala Dunia dan sayangnya saya tidak mampu memenuhi komitmen tersebut,” ujarnya.

Dia menyebut langkah mundur sebagai bentuk tanggung jawab. “Itu keputusan yang tepat untuk mundur, sebuah bentuk cinta dan tanggung jawab,” katanya.

Tegas Soal Tanggung Jawab dan Kritik

Gravina juga menanggapi kritik yang terus mengarah kepadanya. Dia menegaskan tidak mengambil keputusan karena tekanan dari pihak luar.

“Saya bukan orang yang bisa ditekan, saya berpikir dengan kepala dingin dan tenang. Ini adalah tindakan tanggung jawab untuk federasi. Saat itu terjadi kepanikan institusional di mana-mana, sehingga lebih baik tidak membuat FIGC semakin terekspos,” ucapnya.

Meski Italia dua kali gagal lolos ke Piala Dunia selama masa jabatannya, dia tidak menganggap seluruh kinerjanya sebagai kegagalan.

“Saya tidak merasa gagal,” tegasnya.

Dia menjelaskan penilaian terhadap federasi tidak bisa hanya melihat satu tim nasional. Menurut dia, FIGC menaungi banyak tim, baik putra maupun putri, dengan berbagai program yang berjalan.

Dia juga menyoroti adanya kesalahpahaman publik terkait peran federasi. Menurut dia, banyak tanggung jawab yang sebenarnya berada di luar kendali FIGC.

Selain itu, dia tetap membela keputusan dalam penunjukan pelatih timnas setelah kepergian Luciano Spalletti. Dia menilai pilihan tersebut sudah tepat pada situasi saat itu.

“Bagi saya, dia adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Dia yang terbaik dan pada saat itu kami membutuhkan seseorang yang bisa membantu para pemain menemukan kembali nilai dari seragam yang mereka kenakan. Namun, sayangnya aspek olahraga tidak berjalan sesuai harapan,” katanya.

Terkait isu Italia berpotensi menggantikan Iran di Piala Dunia 2026, Gravina menolak keras gagasan tersebut.

“Itu menurut saya adalah ide yang tidak masuk akal dan memalukan. Kami berjuang demi semangat para penggemar Italia, yang menjadi satu-satunya pihak yang pantas pergi ke Piala Dunia,” ujarnya.

Pemilihan pengganti Gravina dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni. Giovanni Malagò dan Giancarlo Abete menjadi kandidat utama untuk mengisi posisi tersebut.

Situasi ini menjadi momen penting bagi sepak bola Italia yang kembali menghadapi tekanan besar usai kegagalan di level internasional.

Topik Menarik