BNI Bukukan Laba Rp5,6 Triliun di Kuartal I 2026
JAKARTA, iNews.id - PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun di kuartal I 2026. Pencapaian ini berhasil diraih di tengah ketidakpastian global dan kondisi geopolitik terutama perang di Timur Tengah.
Struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1 persen year on year (YoY). Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga tumbuh 12,6 persen terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel.
Kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas aset, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9, Loan at Risk berada di level 8,6 atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta credit cost di level 1,1 sesuai dengan guidance.
Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun hingga kuartal I 2026.
Fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5 serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.
Pencapaian ini tidak diperoleh dengan singkat, melainkan hasil dari upaya setiap lini bisnis terutama kinerja cabang yang didukung oleh platform digital channel BNIdirect dan wondr by BNI. Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1 di Maret 2025 menjadi 11,3 di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.
Platform digital turut menjadi pendorong utama dalam memperkuat pertumbuhan tersebut. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta dengan tingkat engagement yang meningkat signifikan, berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan tabungan ritel.
Sementara itu, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16 YoY, yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.
Penguatan pertumbuhan CASA mendorong penyaluran kredit yang mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang sehat sebesar 20,1 YoY menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ujar Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Sementara itu, untuk memperkuat pondasi permodalan, BNI mengambil langkah proaktif dengan melakukan penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar 700 juta dolar AS atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026.
Penguatan permodalan ini semakin meningkatkan kapasitas BNI dalam mengantisipasi potensi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan dan sehat di masa yang akan datang.










