Tak Mau Diatur! Arab Saudi Tegas Tolak Tekanan Amerika Serikat
JEDDAH, iNews.id – Arab Saudi menolak tekanan Amerika Serikat (AS) di tengah memanasnya konflik Timur Tengah, termasuk dampak dari blokade Selat Hormuz yang memicu ketegangan global.
Pernyataan tegas itu disampaikan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, yang menekankan negaranya tidak akan menyusun kebijakan berdasarkan kepentingan pihak lain.
Dia menegaskan sikap tersebut juga berlaku bagi negara-negara Arab lain. Kebijakan luar negeri tetap berlandaskan kepentingan nasional masing-masing, bukan tekanan eksternal.
Dia juga menyampaikan pihaknya tetap terbuka untuk dialog dengan semua mitra, baik dari Barat maupun Timur, demi mencapai kepentingan bersama tanpa harus berpihak.
Sikap ini muncul di tengah eskalasi konflik setelah Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz. Langkah tersebut diambil usai perundingan dengan Iran belum mencapai kesepakatan.
Di sisi lain, AS dan Iran masih membuka peluang melanjutkan negosiasi di Islamabad, Pakistan. Seorang sumber menyebut jadwal pertemuan belum pasti, namun opsi akhir pekan sedang dipertimbangkan.
PSSI Dukung Erick Thohir Berantas Predator Seksual di Dunia Olahraga: Tidak Ada Toleransi!
Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan Iran telah menghubungi pihaknya untuk membahas kesepakatan. Dia menegaskan tidak akan menerima perjanjian yang memberi ruang Iran memiliki senjata nuklir.
Blokade Selat Hormuz Picu Dampak Besar
Blokade Selat Hormuz berdampak langsung terhadap jalur pelayaran global. Ribuan kapal dilaporkan tertahan dan menghadapi ketidakpastian di kawasan tersebut.
Sebanyak 14 kapal tercatat masuk ke Teluk dan tujuh kapal keluar dari selat. Sementara itu, 13 kapal masih berada di area tersebut dan sekitar 2.000 kapal tertahan di sisi teluk.
Selain itu, sekitar 40 kapal masih menunggu giliran untuk melintas. Beberapa kapal bahkan dilaporkan memalsukan sinyal AIS demi menghindari risiko di tengah situasi tegang.
China mengecam keras langkah AS yang dinilai berbahaya dan memperburuk kondisi. Uni Eropa juga menolak penutupan selat karena mengganggu kebebasan navigasi internasional.
AS meningkatkan kehadiran militernya dengan mengerahkan kapal induk USS Gerald Ford serta tambahan pasukan. Langkah ini mempertegas potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Sebagai respons, Iran menyiagakan pasukan elit angkatan laut di wilayah selatan. Situasi ini memperlihatkan ketegangan yang terus meningkat dan berpotensi meluas.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai peluang negosiasi lanjutan masih terbuka. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan konflik tetap berada dalam fase rawan.










