Profil Viktor Axelsen: Raja Bulu Tangkis yang Pensiun Dini Gegara Cedera
JAKARTA, iNews.id - Profil Viktor Axelsen menjadi sorotan dunia bulu tangkis setelah dia resmi mengumumkan pensiun pada usia 32 tahun akibat cedera punggung berkepanjangan.
Viktor Axelsen menyampaikan keputusan tersebut melalui media sosial pribadinya setelah melalui perjuangan panjang melawan cedera yang tidak kunjung pulih.
Dalam pernyataannya, dia mengungkapkan kondisi tubuh sudah tidak lagi memungkinkan untuk bertanding di level tertinggi meski berbagai upaya medis telah dilakukan.
"Hari ini adalah hari yang tidak mudah bagi saya. Karena masalah punggung saya yang berulang, saya tidak lagi mampu berkompetisi dan berlatih di level tertinggi. Setelah menjalani operasi endoskopi, beberapa suntikan, metode latihan baru, perawatan, dan pada dasarnya mencoba segala cara untuk bebas dari rasa sakit selama ini, saya disarankan untuk fokus pada kesehatan jangka panjang saya," tulis Axelsen di Instagram.
Dia juga menegaskan keputusan ini menjadi momen terberat dalam hidupnya sebagai atlet profesional.
"Menerima situasi ini sangat sulit, tetapi saya sekarang telah mencapai titik di mana tubuh saya tidak mengizinkan saya untuk melanjutkan," ucapnya.
Awal Karier dan Kebangkitan Seorang Bintang
Perjalanan Axelsen dimulai sejak usia dini di Denmark. Dia sudah menunjukkan bakat luar biasa sejak turnamen junior pada 2006 dan 2008 dengan menjuarai nomor tunggal dan ganda.
Namanya mulai dikenal dunia saat menjuarai Kejuaraan Dunia Junior 2010. Pada usia 16 tahun, dia juga sudah mencatat gelar internasional senior pertamanya di Cyprus International.
Sejak saat itu, kariernya terus menanjak tanpa henti.
Deretan Prestasi Viktor Axelsen di Level Dunia
Tahun 2014 menjadi awal kejayaan besar dengan gelar Swiss Open serta medali perunggu di Kejuaraan Dunia dan Kejuaraan Eropa.
Dua tahun kemudian, dia mencetak sejarah besar dengan menjuarai Kejuaraan Eropa 2016 dan membantu Denmark memenangkan Piala Thomas pertama.
Pada tahun yang sama, dia meraih medali perunggu Olimpiade Rio 2016 setelah mengalahkan legenda China, Lin Dan.
Puncak karier datang pada 2017 ketika dia menjuarai Kejuaraan Dunia di Glasgow dan langsung menjadi peringkat satu dunia BWF.
Sejak itu, dia terus mengoleksi gelar besar, termasuk All England 2020 yang mengakhiri penantian panjang Denmark di sektor tunggal putra.
Dominasi semakin kuat ketika dia meraih emas Olimpiade Tokyo 2020 setelah tampil luar biasa di final.
Dia kembali membuktikan kelasnya dengan menjuarai Kejuaraan Dunia 2022 dan mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia.
Prestasi puncak terakhir datang di Olimpiade Paris 2024 saat dia kembali meraih medali emas dan mencatat sejarah sebagai salah satu pemain tersukses di era modern bulu tangkis.
Akhir Era Sang Raja Tunggal Putra
Meski berada di puncak prestasi, cedera mulai mengganggu sejak 2025. Masalah punggung dan bahu membuatnya sering absen dan menjalani berbagai tindakan medis.
Upaya comeback sempat dilakukan, namun kondisi fisik tidak kunjung membaik hingga akhirnya dia memilih pensiun pada April 2026.
Keputusan ini menutup perjalanan salah satu legenda terbesar dalam sejarah bulu tangkis dunia dengan warisan prestasi yang sulit ditandingi.










