Penyebab Kasus Gagal Ginjal di Malaysia Meledak hingga 5 Juta Orang Penderita

Penyebab Kasus Gagal Ginjal di Malaysia Meledak hingga 5 Juta Orang Penderita

Gaya Hidup | inews | Selasa, 14 April 2026 - 10:34
share

JAKARTA, iNews.id – Kasus gagal ginjal kronis di Malaysia melonjak tajam dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Jumlah penderita diperkirakan telah menembus lebih dari lima juta orang, dengan sebagian besar tidak menyadari kondisi yang mereka alami.

Pemerintah Malaysia bahkan harus menggelontorkan dana besar untuk menangani penyakit ini. Biaya pengobatan penyakit ginjal stadium akhir mencapai 3,3 miliar ringgit per tahun, naik drastis dibandingkan 572 juta ringgit pada 2010.

Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad mengatakan, penyakit ginjal kronis (CKD) kini menjadi salah satu tantangan kesehatan paling mendesak. Lonjakan kasus terjadi seiring meningkatnya faktor risiko di masyarakat.

"Setiap hari, 28 warga Malaysia didiagnosis menderita gagal ginjal dan harus memulai perawatan dialisis," kata dia dikutip dari NST Online, Selasa (14/4/2026).

Dia mengungkapkan, hanya sekitar lima persen dari total penderita yang benar-benar menyadari kondisi mereka. Padahal, prevalensi CKD meningkat signifikan dari sembilan persen pada 2011 menjadi 15,5 persen pada tahun lalu.

"Jika kita gagal bertindak tegas sekarang, lebih dari 106.000 warga Malaysia akan membutuhkan perawatan dialisis pada 2040."

Menurut dia, salah satu penyebab utama lonjakan kasus gagal ginjal adalah komplikasi penyakit diabetes yang tidak terkontrol. Pola konsumsi gula yang tinggi dinilai menjadi faktor pemicu utama meningkatnya penyakit tersebut.

Sebagai langkah penanganan, pemerintah Malaysia meningkatkan bea cukai minuman manis menjadi 90 sen per liter sejak Januari tahun lalu. Kebijakan ini bertujuan menekan konsumsi gula di masyarakat.

Pendapatan dari pajak tersebut mencapai 54,9 juta ringgit, dengan 21 juta ringgit dialokasikan kembali ke Kementerian Kesehatan. Dana itu digunakan untuk mensubsidi pengobatan diabetes guna mencegah komplikasi lebih lanjut, termasuk gagal ginjal.

Selain itu, pemerintah juga mendorong kebijakan “dialisis peritoneal pertama”. Program ini memungkinkan pasien menjalani perawatan di rumah guna mengurangi beban fasilitas kesehatan serta meningkatkan kualitas hidup penderita.

Tahun lalu, kementerian mengalokasikan 40 juta ringgit untuk program tersebut. Hasilnya, angka penerimaan meningkat menjadi 42 persen di fasilitas kesehatan masyarakat, dari sebelumnya 36,6 persen pada 2020, dengan total 3.161 pasien telah merasakan manfaatnya.

Topik Menarik