Kasus Gagal Ginjal di Malaysia Meledak, Ada 5 Juta Orang Penderita
JAKARTA, iNews.id - Penyakit kronis gagal ginjal jadi momok di Malaysia. Negara tersebut menghabiskan 3,3 miliar ringgit setiap tahun untuk pengobatan penyakit ginjal stadium akhir, meningkat tajam dari 572 juta ringgit pada 2010.
Menteri Kesehatan Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad mengatakan penyakit ginjal kronis (CKD) telah menjadi salah satu tantangan kesehatan paling mendesak yang dihadapi masyarakat Malaysia.
"Setiap hari, 28 warga Malaysia didiagnosis menderita gagal ginjal dan harus memulai perawatan dialisis," katanya dilansir dari NST Online, Selasa (14/4/2026).
Diperkirakan lebih dari lima juta orang di negara ini hidup dengan kondisi tersebut, tetapi hanya sekitar lima persen yang menyadarinya. Prevalensi CKD juga meningkat secara signifikan, dari sembilan persen pada 2011 menjadi 15,5 persen tahun lalu.
"Jika kita gagal bertindak tegas sekarang, lebih dari 106.000 warga Malaysia akan membutuhkan perawatan dialisis pada 2040."
Dia memperingatkan bahwa penyakit tersebut tidak hanya memengaruhi kualitas hidup masyarakat tetapi juga memberikan beban keuangan yang berat bagi negara.
Dzulkefly mengatakan sebagian besar kasus gagal ginjal di Malaysia terkait dengan komplikasi diabetes.
Sebagai tanggapan, pemerintah telah meningkatkan upaya untuk mengurangi konsumsi gula, termasuk menaikkan bea cukai minuman manis menjadi 90 sen per liter sejak Januari tahun lalu.
Pajak tersebut menghasilkan pendapatan sebesar 54,9 juta ringgit pada tahun lalu, dengan 21 juta ringgit disalurkan kembali ke Kementerian Kesehatan.
Dana tersebut digunakan untuk mensubsidi resep inhibitor Sodium-Glucose Transport Protein 2 untuk mengobati diabetes dan mengurangi risiko komplikasi penyakit ginjal.
Kementerian juga mempromosikan kebijakan "dialisis peritoneal pertama", mendorong pasien yang memenuhi syarat untuk menjalani perawatan dialisis di rumah.
Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan di pusat perawatan, menurunkan biaya perawatan kesehatan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Tahun lalu, kementerian mengalokasikan 40 juta ringgit untuk dialisis peritoneal, dengan peningkatan angka penerimaan menjadi 42 persen di fasilitas kesehatan masyarakat, dibandingkan dengan 36,6 persen pada 2020. Hal ini telah memberikan manfaat kepada total 3.161 pasien.










