Terungkap! Netanyahu Bujuk AS Tak Masukkan Lebanon dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

Terungkap! Netanyahu Bujuk AS Tak Masukkan Lebanon dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

Berita Utama | inews | Jum'at, 10 April 2026 - 09:06
share

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada awalnya dilaporkan setuju untuk memasukkan Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Namun tiba-tiba dia berubah pikiran.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi berhasil meyakinkan Trump bahwa Lebanon harus dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata. Pakistan merupakan mediator konflik Iran dan AS.

Stasiun televisi AS CBS News, mengutip sumber pejabat diplomatik di Gedung Putih, melaporkan Trump berubah pendirian setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Trump pada Selasa (7/4/2026) malam waktu Washington DC mengumumkan gencatan senjata dua arah dengan Iran selama 2 pekan. Namun beberapa jam setelah itu, Rabu (8/4/2026), pasukan Israel menggelar serangan udara besar-besaran ke Lebanon. Jet-jet tempur militer Zionis serta artileri Israel menyerang belasan tarhet permukiman di Lebanon selatan, termasuk Kota Tyre. 

Akibat serangan Israel ke Lebanon, 182 orang tewas di hari itu, dan jumlahnya bertambah menjadi 300 orang lebih pada Jumat (10/4/2026).

Trump kemudian mengatakan penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran konflik keduanya terpisah. Namun Iran menyangkal hal itu dan menuduhnya sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Namun menjelang negosiasi damai dengan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada Jumat, Trump mengatakan telah meminta Netanyahu untuk membatasi serangan terhadap Lebanon.

"Saya berbicara dengan Bibi (panggilan Netanyahu), dan dia akan menahan diri dari hal itu (serangan di Lebanon). Saya percaya kita harus lebih menahan diri," kata Trump.

Topik Menarik