PTPP Fokus Restrukturisasi dan Penguatan Bisnis Konstruksi Sebelum Merger
JAKARTA, iNews.id - PT PP (Persero) Tbk (PTPP) akan fokus pada penguatan bisnis utama dan kinerja keuangan yang ekspansif dalam memperbaiki performa perseroan. Hal ini dilakukan sebelum penggabungan usaha atau merger BUMN Karya dilakukan oleh Danantara.
Direktur Utama PTPP Novel Arsyad menuturkan, komitmen ini selaras dengan kondisi keuangan periode 2025 yang mengalami tekanan akibat terfragmentasinya lini bisnis dan belum maksimalnya bisnis konstruksi.
Adapun, Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,07 triliun atau naik drastis 298,99 persen dibandingkan rugi Rp1,52 triliun pada 2024. Kenaikan rugi ini selaras dengan penurunan pendapatan usaha korporasi, yang pada 2025 membukukan pendapatan Rp16,27 triliun atau turun 17,87 persen dari tahun 2024 sebesar Rp19,81 triliun.
"Bagaimana kami memastikan keterbukaan penuh, evaluasi yang lebih detail sebelum merger dilakukan. BUMN konstruksi atau BUMN Karya ini harus kembali ke core bisnisnya yaitu bisnis konstruksi, dan bisnis-bisnis lainnya (di luar konstruksi) harus segera diselesaikan untuk baik itu berupa investasi," kata Novel dalam dalam acara Earnings Call tahun buku 2025, Selasa (7/4/2026).
Novel menambahkan, restrukturisasi keuangan perusahaan akan dilakukan dalam waktu dekat, termasuk menghitung ulang beban bunga pinjaman. Perseroan juga terus memastikan penagihan-penagihan piutang yang saat ini masih berjalan.
Upaya restrukturisasi ini juga menyasar bagaimana divestasi di PP Infrastruktur, dan juga anak usaha perseroan, PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA).
"Yang cukup menjadi exposure pada kinerja perusahaan adalah terkait asumsi expected credit loss atas piutang. Dalam hal ini, kami melakukan evaluasi yang cukup dalam detail untuk memastikan bahwa piutang-piutang yang memang masih cukup bermasalah atau punya indikasi kuat tidak bisa tertagih," ucapnya.
Selain itu, pembatalan pengerjaan proyek yang berasal dari sisi konsumen juga turut membebani keuangan korporasi. Novel menyoroti proyek yang berujung pembatalan pada garapan anak usaha PP Properti sehingga mengakibatkan peningkatan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Tak hanya itu, perjanjian berbasis kerjasama operasi dengan pihak terkait juga dievaluasi.
"Berikutnya yang sangat vital juga, bagaimana kami melakukan streamlining di anak usaha dengan melakukan divestasi-divestasi yang saat ini sedang berjalan di antaranya adalah di BSI, menara BSI. Karena ini yang yang bisa menjadi buffer kita juga dalam proses berjalan menuju restrukturisasi," ujarnya.
Terkait penguatan bisnis, Novel memastikan perseroan akan terlibat pada proyek-proyek, yang memang sesuai pekerjaan dan kapasitas PTPP, terutama proyek yang berdasarkan anggaran APBN dan proyek BUMN. Ditambah, proyek dari pihak swasta yang dipilih selektif berdasarkan manajemen risiko.
Dalam menopang penguatan bisnis, perseroan memperkuat manajemen resiko dan mekanisme Lean Construction untuk bisa meminimalkan biaya yang ada di dalam proyek sehingga bisa tertata dengan baik berbasis teknologi andal.
"Bagaimana kami memastikan bahwa proyek ini termonitor dengan baik, termanage risikonya dengan baik, sehingga kami bisa memastikan proyek-proyek ke depan kita ini tidak mengalami tekanan cash flow mulai dari proses pembayaran dan bagaimana pengelolaan kita yang akhirnya bisa menghasilkan profit," tuturnya.










