Gunung Slamet Naik Status Waspada, 21 Pendaki Turun via Jalur Baturaden
BANYUMAS, iNews.id - Gunung Slamet naik status dari level normal ke waspada yang membuat seluruh jalur pendakian ditutup demi keselamatan. Penutupan dilakukan karena aktivitas vulkanis meningkat dan dinilai berbahaya dalam radius 3 kilometer dari puncak.
Salah satu jalur yang ditutup adalah Pos Pendakian Baturaden Lestari di kawasan Perhutani Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pos ini dikenal sebagai jalur favorit pendaki menuju puncak Gunung Slamet.
Sejak penutupan diberlakukan, aktivitas di pos tersebut terlihat sepi. Tidak ada lagi pendaki yang melakukan perjalanan ke puncak.
Sebelumnya, sebanyak 21 pendaki terpaksa turun dari Gunung Slamet. Mereka berasal dari Jakarta dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Para pendaki tersebut sudah berada di puncak saat pengumuman kenaikan status Gunung Slamet. Demi keselamatan, mereka langsung turun melalui jalur Baturaden.
Ketua Pos Baturaden Lestari, Daryono, menjelaskan penutupan dilakukan berdasarkan peningkatan aktivitas gunung.
"Mendengar, melihat dan menyaksikan adanya kenaikan suhu di puncak atau keterangan dari BMKG sehingga membahayakan pendaki pada radius 3 km. Untuk menjamin keselamatan dan agar tidak terjadi sesuatu hal pada pendaki, maka kami selaku pengelola pendakian Gunung Slamet via Baturaden ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan," katanya, Selasa (7/4/2026).
Penutupan jalur pendakian ini berlaku hingga waktu yang belum ditentukan. Selain Baturaden, sejumlah jalur lain juga ikut ditutup.
Diketahui, Gunung Slamet merupakan gunung aktif yang berada di lima wilayah kabupaten, yakni Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Pemalang dan Brebes. Gunung ini dikenal memiliki karakter letusan strombolian. Letusan tersebut biasanya memuntahkan material ke sekitar kawah.
Dampaknya, hujan abu dan kerikil berpotensi menyebar ke wilayah sekitar. Kondisi ini menjadi alasan utama penutupan jalur pendakian.
Gunung Slamet saat ini berstatus level waspada yang menjadi peringatan bagi masyarakat dan pendaki untuk tidak mendekati kawasan puncak demi keselamatan.










