Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Pastikan Pengawasan Tetap Ketat

Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Pastikan Pengawasan Tetap Ketat

Gaya Hidup | inews | Selasa, 31 Maret 2026 - 18:52
share

JAKARTA, iNews.id - Kasus campak di Indonesia dilaporkan menurun tajam sepanjang awal 2026. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penurunan hingga 93 persen dari puncak kasus pada awal tahun.

Data Kemenkes menunjukkan jumlah kasus harian turun dari 2.220 kasus pada minggu pertama 2026 menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret atau minggu ke-12.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni mengatakan, tren penurunan ini terlihat di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus.

“Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026,” ujar dr Andi dalam jumpa pers daring di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, pemerintah memastikan pengawasan berjalan ketat meski kasus terus menurun. Hal ini untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus setelah periode libur Lebaran.

Kemenkes memastikan sistem surveilans tetap aktif dan berjalan secara real-time. Pemantauan dilakukan melalui metode New All Record (NAR) serta Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang berasal dari laporan fasilitas kesehatan.

Data tersebut kemudian diverifikasi kembali dengan dinas kesehatan daerah untuk memastikan keakuratan laporan.

“Pengawasan dilakukan secara real-time melalui metode New All Record (NAR) dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari fasilitas kesehatan, yang kemudian diverifikasi silang dengan dinas kesehatan daerah,” kata dr Andi.

Meski angka kasus mengalami penurunan signifikan, Kemenkes tetap mencatat adanya korban jiwa akibat campak pada tahun ini.

Secara nasional, terdapat 10 kasus kematian akibat campak sepanjang 2026. Salah satu kasus menimpa seorang dokter internsip di Kabupaten Cianjur.

Dokter tersebut berinisial AMW (25) dan meninggal dunia pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi campak yang menyerang jantung dan otak.

AMW diduga terpapar virus saat menangani pasien campak pada 8 Maret. Dia tetap menjalankan tugas meski mengalami demam sejak 18 Maret.

Kondisinya kemudian memburuk dengan munculnya ruam pada 21 Maret. Setelah mengalami penurunan kesadaran, dia dirawat di ICU RS Cimacan namun tidak tertolong. Hasil pemeriksaan laboratorium Biofarma memastikan AMW positif terinfeksi campak.

Kasus ini terjadi saat Kabupaten Cianjur mencatat 15 suspek campak dengan 10 kasus terkonfirmasi. Lonjakan kasus di daerah tersebut terjadi pada minggu ke-10.

Kemenkes mengingatkan meski tren menurun, masyarakat tetap perlu waspada terhadap penularan. Kementerian juga mengimbau masyarakat serta tenaga kesehatan yang belum mendapatkan vaksin untuk segera melengkapi imunisasi guna memutus rantai penyebaran penyakit ini.

Topik Menarik