Stres Rumah Tangga Bisa Picu Keguguran? Ini Penjelasan Medisnya
JAKARTA, iNews.id – Cucu Mpok Nori, Dwintha Anggary, mengalami keguguran sebanyak tiga kali sebelum dibunuh mantan suami sirinya, Fuad. Fakta mengharukan ini pun mengejutkan publik.
Bagaimana tidak, Anggi tidak hanya dibunuh secara sadis oleh Fuad, tapi semasa hidup dia menjalani rumah tangga penuh penderitaan. Bahkan, Ketua RT setempat, Nurgiyanto, mengungkapkan kalau Anggi juga korban KDRT.
Tekanan demi tekanan ini yang diduga kuat pihak keluarga menjadi penyebab Anggi keguguran sebanyak tiga kali. Ya, stres menjalani rumah tangga dengan Fuad membuat psikis Anggi terguncang, hingga membuat janin di dalam kandungan keguguran.
Menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana bisa stres rumah tangga memicu keguguran? Simak penjelasan ilmiahnya hanya di artikel ini.
Alasan Stres Rumah Tangga Bisa Picu Keguguran
Stres dalam kehidupan rumah tangga kerap dikaitkan dengan keguguran. Namun, secara medis, jawabannya tidak sesederhana itu.
Berdasarkan laporan MSD Manuals, keguguran paling sering disebabkan oleh kelainan kromosom pada janin, terutama pada trimester pertama kehamilan. Selain itu, faktor lain seperti infeksi, penyakit kronis pada ibu, hingga gaya hidup juga memiliki peran signifikan.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa stres emosional atau guncangan psikologis tidak terbukti sebagai penyebab langsung keguguran. Artinya, stres bukan faktor utama yang secara langsung menyebabkan kehamilan berakhir.
Namun demikian, bukan berarti stres bisa dianggap sepele. Sejumlah kajian kesehatan menyebutkan, stres berat dan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko keguguran secara tidak langsung. Hal ini berkaitan dengan respons biologis tubuh terhadap stres.
Saat seseorang mengalami stres kronis, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol dalam jumlah tinggi. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, di antaranya:
- Menurunkan daya tahan tubuh (imunitas)
- Mengganggu keseimbangan hormon kehamilan
- Memicu gangguan tidur dan pola makan
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan, seperti gangguan perkembangan janin, kelahiran prematur, hingga meningkatkan risiko keguguran.
Stres dalam rumah tangga sering kali bersifat kompleks dan berkepanjangan, misalnya akibat konflik pasangan, tekanan ekonomi, atau beban mental yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, ibu hamil bisa mengalami stres kronis yang lebih berisiko dibandingkan stres sesaat.
Para ahli menekankan bahwa penting untuk membedakan antara stres ringan sehari-hari dengan stres berat yang terus-menerus. Apa bedanya?
Stres ringan umumnya tidak berdampak signifikan terhadap kehamilan, sementara stres kronis yang tidak terkelola dengan baik dapat menjadi faktor risiko tambahan.
Kesimpulannya, stres bukan penyebab utama keguguran, tetapi dalam kondisi tertentu, terutama jika berlangsung lama dan intens, stres dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko tersebut. Apalagi jika ibu hamil sampai mengalami tindakan KDRT.
Karena itu, menjaga kesehatan mental selama kehamilan menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. Dukungan pasangan, lingkungan yang kondusif, serta konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu ibu hamil menjalani kehamilan yang lebih sehat dan aman.










