Produsen Mobil di Indonesia Waspadai Dampak Buruk Konflik di Timur Tengah

Produsen Mobil di Indonesia Waspadai Dampak Buruk Konflik di Timur Tengah

Otomotif | inews | Sabtu, 14 Maret 2026 - 23:09
share

JAKARTA, iNews.id – Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai menjadi perhatian serius bagi industri otomotif global, termasuk para produsen kendaraan di Indonesia. Ketegangan yang terus berlangsung dikhawatirkan dapat mengganggu rantai pasok komponen otomotif hingga memicu kenaikan biaya distribusi internasional.

Sejumlah perusahaan otomotif menyebut dampaknya belum terasa secara langsung terhadap aktivitas produksi dan penjualan di dalam negeri. Meski demikian, mereka tetap memantau perkembangan situasi global karena konflik berkepanjangan berpotensi memengaruhi jalur logistik, pasokan komponen, hingga stabilitas ekonomi dunia.

Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra mengatakan, hingga saat ini kegiatan ekspor Suzuki dari Indonesia masih berjalan seperti biasa. Pengiriman kendaraan ke berbagai negara tujuan juga belum mengalami penghentian.

Menurut dia, sektor produksi Suzuki di Indonesia relatif aman karena tingkat kandungan lokal kendaraan sudah sangat tinggi. "Komponen lokal yang mencapai hampir 90 persen membuat perusahaan tidak terlalu bergantung pada pasokan impor," ujarnya saat dikonfirmasi media, Rabu (11/3/2026).

Meski kondisi saat ini masih stabil, Suzuki tetap mencermati perkembangan konflik global yang dapat memengaruhi industri otomotif. Beberapa risiko yang menjadi perhatian antara lain potensi perubahan jalur pelayaran internasional, gangguan keamanan di rute distribusi laut, serta fluktuasi nilai tukar mata uang.

Selain itu, perusahaan juga mengantisipasi kemungkinan peningkatan biaya logistik apabila konflik membuat jalur pengiriman global terganggu. Situasi tersebut berpotensi menambah biaya operasional yang pada akhirnya bisa berdampak pada harga kendaraan.

Di sisi lain, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menilai konflik di Timur Tengah juga memberikan perspektif berbeda bagi industri otomotif. Menurut dia, ketidakpastian geopolitik justru menegaskan pentingnya percepatan transisi menuju kendaraan listrik di berbagai negara.

Ketergantungan dunia terhadap energi fosil dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sektor transportasi rentan terhadap konflik geopolitik. Karena itu, kendaraan listrik dianggap sebagai alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi berbasis minyak.

"Kami konsisten dengan strategi elektrifikasi kendaraan," katanya.

BYD menilai tren elektrifikasi kendaraan akan semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global. Peralihan menuju energi yang lebih bersih dan stabil diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem transportasi berkelanjutan.

Sementara itu, PT Toyota-Astra Motor (TAM) masih mengambil sikap hati-hati dengan memantau situasi global. Perusahaan memilih menunggu perkembangan kondisi sebelum menentukan langkah strategis selanjutnya.

“Untuk saat ini belum ada pengaruh. Kita masih melihat perkembangan,” ujar Direktur Marketing PT Toyota-Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Meski begitu, Jap Ernando mengakui konflik geopolitik berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi global. Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya bisa merambat ke berbagai sektor industri, termasuk otomotif.

Menurutnya, stabilitas ekonomi dunia sangat berkaitan dengan permintaan kendaraan. Ketika kondisi ekonomi terganggu, daya beli masyarakat berpotensi ikut melemah sehingga memengaruhi penjualan otomotif.

Topik Menarik