Senyum Semringah Jokowi usai Bertemu Rismon Sianipar di Kediamannya
JAKARTA, iNews.id - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan tersangka tudingan ijazah palsu Rismon Sianipar di kediamannya, Solo, Jawa Tengah pada Kamis (12/3/2026). Jokowi melemparkan senyum semringah usai pertemuan itu.
Jokowi tampak keluar dari rumahnya setelah pertemuan tersebut. Dia menyapa awak media yang menunggu di depan rumahnya seraya tersenyum.
Dia lalu menaiki mobil yang telah menunggu di depan rumahnya. Tak diketahui secara pasti tujuan Jokowi pergi.
Diketahui, kedatangan Rismon bertujuan untuk mengklarifikasi temuan terbarunya sekaligus menyampaikan permohonan maaf langsung kepada Jokowi terkait tudingan ijazah palsu.
Usai pertemuan, Rismon menyebut dirinya mengkaji ulang dan mempelajari kembali semua metodologi-metodologi yang ia tulis secara independen. Dia mengemukakan bahwa metodologi itu ditulis sekitar 480-an halaman dari 700 halaman lebih di buku Jokowi's White Paper.
"Nah, karena buku tersebut adalah tulisan yang independen, artinya tulisan kami antara Pak Roy (Roy Suryo) dan Bu Tifa tidak ada saling kebergantungan, tidak ada saling keterkaitan karena ditulis secara terpisah, baik secara geografi maupun analisa," ucapnya.
Terkait itu, Rismon mengaku tetap melanjutkan penelitiannya. Sedangkan apa yang dilakukan Roy Suryo dan dokter Tifa dirinya tidak tahu dengan alasan objek kajiannya berbeda.
Dari penelitian lanjutan yang ia lakukan, Rismon menyebut ada temuan-temuan baru yang juga berdasarkan penelitian, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademik. "Bukan dengan narasi suka atau tidak, suka dihina atau tidak, dicaci maki atau tidak. Ini murni bisa dipertanggungjawabkan," tuturnya.
Rismon menuturkan, sejak gelar perkara ditunjukkan ijazah analog Jokowi, ia kembali mengkaji dan mengamati dan ternyata ada embos, dan watermarks yang menjadi objek kajiannya. Dari penelitiannya, ia tidak mendapati adanya hologram.
Setelah dikaji dengan beberapa objek ijazah lainnya, di tahun yang sama dari Universitas Gadjah Mada (UGM), pada saat itu hologram memang tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah.
"Setelah itu, saya bandingkan dan saya analisa dengan apa yang di-upload secara digital di akun X dari saudara Dian Sandi Utama. Di situ Saya temukan memang dengan puluhan metode, ada watermarks," katanya.









