Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia Masih Aman dari Krisis
JAKARTA, iNews.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih aman meski nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi jika tekanan global semakin meningkat.
Purbaya mengatakan salah satu risiko yang diwaspadai adalah lonjakan harga minyak dunia. Pemerintah bahkan telah menyiapkan skenario jika harga minyak mentah melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel.
“Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali, enggak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang harganya tinggi sekali dan anggarannya sudah enggak enggak tahan lagi,” ujarnya.
Dia menuturkan lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara. Sebab itu, pemerintah akan mengambil langkah-langkah agar kondisi tersebut tidak terjadi.
Roy Suryo cs Jalani Sidang Perdana Gugatan ke MK, Merasa Dikriminalisasi dari Kasus Ijazah Jokowi
Sementara si tengah kondisi global yang tidak menentu, rupiah pada perdagangan terbaru dibuka di level Rp17.001 per dolar AS. Angka tersebut melemah sekitar 90 poin dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat pekan lalu.
Tekanan juga terjadi pada pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 7.374 atau melemah hampir 5 persen.
Purbaya menilai pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG tidak sepenuhnya disebabkan faktor fundamental ekonomi dalam negeri. Dia menilai sentimen pasar juga dipengaruhi narasi pesimistis yang berkembang di kalangan ekonom terkait prospek ekonomi Indonesia.
Menurutnya, sebagian pelaku pasar menilai Indonesia menuju kondisi krisis seperti tahun 1998. Narasi tersebut dinilai memengaruhi kepercayaan pasar sehingga berdampak pada pergerakan rupiah dan pasar saham.
“Yang jelas kita monitor dari waktu ke waktu dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan. Rupiah Rp17.000 karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi gitulah daya beli sudah hancur,” katanya.
Purbaya menegaskan kondisi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Dia menilai perekonomian Indonesia saat ini justru masih berada pada fase ekspansi.
“Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian dan boro-boro krisis. Jangankan krisis, resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” ujarnya.
Dia menambahkan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan dunia.
Meski terdapat tekanan eksternal, Purbaya menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai gejolak global.
Pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi domestik.
Menurutnya, menjaga konsumsi masyarakat menjadi salah satu kunci penting agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Purbaya memastikan pemerintah akan terus mengambil langkah cepat apabila situasi ekonomi memerlukan penyesuaian kebijakan dalam waktu dekat.










