PM Malaysia: Perang Timur Tengah Bisa Picu Krisis Dahsyat, Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
KUALA LUMPUR, iNews.id - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memperingatkan warganya bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi memicu krisis ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang mengguncang pasar energi dunia.
Anwar mengatakan, salah satu risiko terbesar adalah jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan rute utama perdagangan minyak dunia sehingga gangguan di kawasan itu dapat memicu lonjakan biaya energi dan perdagangan internasional.
“Kita harus memantau situasi ini dan jangan sampai lengah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kita harus berhati-hati mulai sekarang,” ujarnya, dikutip dari The Star, Senin (9/3/2026).
Di tengah ketidakpastian tersebut, pemerintah Malaysia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis RON 95 tetap dipertahankan selama 2 bulan ke depan. Harga BBM itu dipatok sebesar 1,99 ringgit atau sekitar Rp8.500 per liter.
Jasa Marga (JSMR) Rilis Travoy, Aplikasi untuk Pantau Kepadatan Jalan Tol Secara Real Time
Menurut Anwar, pemerintah akan berupaya mengendalikan dampak konflik yang melibatkan Iran terhadap perekonomian domestik, termasuk menjaga stabilitas harga energi.
“Kita akan mencoba mengendalikan dampak konflik Iran, termasuk untuk RON 95, yang harganya 1,99 ringgit per liter,” katanya.
Namun dia mengingatkan, kemampuan Malaysia menahan dampak gejolak energi kemungkinan hanya bertahan dalam waktu terbatas.
“Kita terus memantau situasi ini karena sejauh ini kita masih bisa bertahan selama satu atau dua bulan,” ujarnya.
Anwar juga meminta pegawai negeri sipil (PNS), pekerja sektor swasta, hingga pelaku usaha untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi dampak ekonomi dari konflik tersebut.
Saat ini sekitar 200 kapal dilaporkan terjebak di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan militer. Kondisi itu berpotensi mengganggu arus perdagangan global dan memperlambat distribusi energi.
Penutupan jalur strategis tersebut juga memaksa kapal-kapal mencari rute alternatif yang lebih jauh. Dampaknya, biaya transportasi meningkat dan dapat mendorong kenaikan harga barang, termasuk impor bagi usaha kecil dan menengah serta harga pangan.
“Mari kita jujur, tulus, dan jelas kepada masyarakat. Kita harus memantau situasi dan jangan sampai kita lengah,” kata Anwar.









