Inggris Restui AS Gunakan Pangkalan Militernya Serang Iran, Starmer: Demi Pertahanan
LONDON, iNews.id – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengizinkan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi defensif menghancurkan situs rudal Iran. Namun, dia menegaskan negaranya tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran dan tidak akan ikut dalam aksi ofensif.
Starmer mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan prinsip pertahanan diri kolektif bersama sekutu, sekaligus untuk melindungi warga negara Inggris di kawasan. Dia menegaskan pemerintahnya telah belajar dari pengalaman Perang Irak dan tidak ingin kembali terseret dalam konflik yang tak terukur.
"Amerika Serikat telah meminta izin untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas," kata Starmer, dilansir dari BBC, Senin (2/3/2026).
Menurut BBC, militer AS kemungkinan memanfaatkan RAF Fairford di Gloucestershire dan pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia untuk menyerang fasilitas rudal Iran. Kedua pangkalan tersebut sebelumnya memang pernah digunakan Washington dalam misi pengeboman jarak jauh.
Pengumuman Starmer disampaikan hanya beberapa jam sebelum pangkalan RAF Akrotiri di Siprus diserang drone pada Minggu malam (1/3/2026), sekitar pukul 22.00 GMT atau Senin (2/3/2026) pagi pukul 05.00 WIB. Kementerian Pertahanan Inggris menyebut serangan itu menimbulkan kerusakan minimal dan tidak menyebabkan korban jiwa.
Dalam pernyataan video yang dirilis Minggu, Starmer menegaskan dasar keputusan menyetujui penerimaan permintaan AS adalah kewajiban membela sekutu dan melindungi nyawa warga Inggris. Dia juga menuduh Iran menjalankan "strategi bumi hangus".
"Kami menerima permintaan ini untuk mencegah Iran menembakkan rudal ke seluruh wilayah, membunuh warga sipil yang tidak bersalah, membahayakan nyawa warga Inggris, dan menyerang negara-negara yang tidak terlibat."
Starmer menambahkan, AS akan menggunakan pangkalan Inggris untuk tujuan pertahanan spesifik dan terbatas, yaitu menghancurkan rudal Iran di sumbernya.
"Satu-satunya cara untuk menghentikan ancaman tersebut adalah dengan menghancurkan rudal-rudal tersebut di sumbernya, di depot penyimpanannya, atau peluncur yang digunakan untuk menembakkan rudal-rudal tersebut," kata Starmer.
Analis Persija Jakarta Dzikry Lazuardi Gabung Staf Kepelatihan John Herdman di Timnas Indonesia
Starmer menegaskan, langkah tersebut sejalan dengan hukum internasional. Pemerintah Inggris bahkan merilis ringkasan nasihat hukum yang menjadi dasar keputusan itu, dengan argumentasi bahwa penggunaan kekuatan diperbolehkan dalam kerangka pembelaan diri jika ancaman bersenjata sedang berlangsung dan respons yang diambil bersifat perlu serta proporsional.
Picu Reaksi Beragam
Keputusan ini memicu reaksi beragam di dalam negeri. Pemimpin Reform UK, Nigel Farage, menyebut langkah tersebut "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali". Dia menyindir Starmer sebagai pengikut, bukan pemimpin.
Sementara itu, Pemimpin Partai Hijau Zack Polanski mengutuk keputusan tersebut dan menuding pemerintah menyeret Inggris ke perang ilegal lain di Timur Tengah.
Bulan lalu, pemerintah Inggris dilaporkan belum memberikan izin bagi AS untuk memakai pangkalan militernya dalam potensi serangan terhadap Iran. Namun Presiden AS Donald Trump kemudian mengatakan penggunaan RAF Fairford dan Diego Garcia mungkin diperlukan apabila Iran menolak membuat kesepakatan.
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai Sabtu dini hari. Trump bahkan mendorong rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka. Teheran membalas dengan menyerang aset-aset AS serta negara-negara di kawasan yang menampung kehadiran militer Amerika, termasuk Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.
Starmer menegaskan pesawat Inggris telah diterbangkan di langit Timur Tengah sebagai bagian dari operasi pertahanan untuk melindungi sekutu dan warga Inggris, namun tidak terlibat dalam serangan ke Iran. Pada Minggu, dia mengatakan pesawat Inggris berhasil mencegat sejumlah serangan Iran.
"Mitra kami di Teluk meminta kami berbuat lebih banyak untuk membela mereka. Tugas saya melindungi nyawa warga Inggris," ujarnya.
Starmer mengungkapkan sedikitnya 200.000 warga Inggris berada di kawasan tersebut, baik yang tinggal menetap, berlibur, maupun transit. Pemerintah Inggris telah meminta warga negaranya di Bahrain, Israel, Kuwait, wilayah Palestina, Qatar, dan Uni Emirat Arab mendaftarkan keberadaan mereka untuk mendapatkan pembatuan informasi.
Menurut Starmer, serangan Iran telah menghantam bandara dan hotel tempat warga Inggris menginap. Pada Sabtu, sebuah pangkalan militer di Bahrain yang hampir mengenai personel Inggris juga menjadi sasaran.









