Bos Agrinas Klaim Sudah Tawarkan Pengadaan Pikap ke Pabrikan Lokal, Hanya Mampu Produksi Segini

Bos Agrinas Klaim Sudah Tawarkan Pengadaan Pikap ke Pabrikan Lokal, Hanya Mampu Produksi Segini

Terkini | inews | Selasa, 24 Februari 2026 - 17:44
share

JAKARTA, iNews.id - Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota membantah tidak mengutamakan pabrikan otomotif dalam negeri untuk pengadaan kendaraan operasional logisitk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
 
Joao menyebut, sejumlah produsen otomotif ternama telah dimintai kesanggupan produksi, tapi tidak ada satu pun yang menyanggupi pemenuhan produksi untuk ratusan ribu unit. Selain itu, harga yang ditawarkan pula jauh lebih mahal dibandingkan alokasi anggaran Agrinas.

"Klarifikasi kamibahwa tidak memberikan kesempatan atau tidak memberikan ruang kepada produsen lokal itu tidak benar. Karena kami terbuka, kami juga melakukan kegiatan (proses penawaran pengadaan) ini secara transparan, dan semua produsen kami beri kesempatan yang sama," ucap Joao saat ditemui di Kantor Agrinas, Jakarta, Selasa (24/2/2026). 

Dari dokumen yang dibeberkan Joao, tercatat sedikitnya ada empat perusahaan otomotif yang menyatakan hanya menyanggupi kapasitas produksi truk dan kendaraan unit pikap 4x4 dan kendaraan niaga tidak lebih dari 45.000 unit. Sedangkan, kebutuhan Agrinas untuk kepentingan operasional Kopdes Merah Putih lebih dari 100.000 unit.

Dia mencontohkan, Mitsubishi lewat unit Fuso yang hanya mampu memproduksi 20.600 unit, Foton Aumark sebanyak 13.500 unit, Hino 10.000 unit, dan Isuzu Canter 900 unit. 

"Mereka hanya mampu memproduksi inden unit per bulan. Artinya bahwa kebutuhan kami tidak bisa terpenuhi, dan harganya pun ditawarkan sekitar 25 persen lebih mahal dengan kompetitor yang kami akhirnya berkontrak," tuturnya.

Meski begitu, Joao dalam setiap sesi pertemuan bisnis dengan produsen mulai dari Astra hingga Mitsubishi mengklaim melakukan lobi termasuk harga. Namun, semua terbentur pada kalkulasi bisnis sehingga tidak ada titik temu soal harga di antara kedua belah pihak.

"Seharusnya kami bisa diberikan harga khusus sehingga kami mampu atau kami mau untuk ber-deal dengan mereka. Tapi sampai dengan terakhir, kami tidak mendapatkan atau tidak dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus, sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar gitu. Khususnya India," tuturnya.

Topik Menarik