Ramadan di Premier League! Pemain Muslim Diberi Waktu Buka Puasa di Tengah Laga
LONDON, iNews.id - Premier League kembali menerapkan jeda Ramadan sehingga pemain Muslim bisa berbuka puasa di tengah pertandingan akhir pekan ini. Kebijakan ini sudah berjalan sejak 2021 dan tetap berlaku musim ini.
Premier League bersama English Football League mengizinkan pemain Muslim berbuka saat laga berlangsung dengan kesepakatan bersama wasit. Tim dapat meminta penghentian singkat pada momen alami pertandingan agar pemain mengonsumsi makanan ringan atau gel energi.
Ramadan di Inggris tahun ini berlangsung mulai Selasa 17 Februari hingga Rabu 18 Maret. Selama periode tersebut, umat Muslim berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam. Akhir pekan ini, matahari terbenam di Inggris sekitar pukul 17.30 waktu setempat.
Artinya, jika diminta, potensi jeda bisa terjadi saat West Ham United menjamu AFC Bournemouth pada Sabtu malam atau ketika Tottenham Hotspur menghadapi Arsenal pada Minggu sore.
Sejumlah pemain Muslim berpotensi memanfaatkan kebijakan tersebut. Dari West Ham ada El Hadji Malick Diouf, dari Bournemouth terdapat Dango Ouattara, dari Tottenham ada Djed Spence, serta dari Arsenal terdapat William Saliba. Selain itu, ada juga Mohamed Salah dari Liverpool dan Amad Diallo dari Manchester United.
Sudah Berlaku Sejak 2021
Kebijakan ini pertama kali diterapkan pada 2021. Saat itu, Wesley Fofana dari Leicester City dan Cheikhou Kouyate dari Crystal Palace diizinkan berbuka puasa dalam laga yang mempertemukan kedua tim.
Fofana menyampaikan terima kasih kepada Premier League, Crystal Palace, dan ofisial pertandingan atas kesempatan berbuka puasa di lapangan. Pada April 2024, pemain Everton seperti Abdoulaye Doucoure, Idrissa Gueye, dan Amadou Onana juga sempat menghentikan laga melawan Newcastle United untuk berbuka.
Doucoure pernah berbicara mengenai pengalamannya menjalani Ramadan sebagai pesepak bola profesional.
“Saya selalu mencintai Ramadan,” ujarnya kepada BBC dalam wawancara 2023. “Terkadang bermain sepak bola terasa sulit karena Ramadan pernah jatuh pada musim panas dan selama pramusim.”
Dia melanjutkan, “Namun saya selalu beruntung bisa menjalankan Ramadan dan tidak pernah ada masalah dengan kondisi fisik saya - saya bersyukur untuk itu.”
Doucoure juga menegaskan prioritas hidupnya. “Agama saya adalah hal terpenting dalam hidup saya - saya menempatkan agama saya di urutan pertama, lalu pekerjaan saya. Anda bisa melakukan keduanya bersama dan saya bahagia dengan itu.”
Penerapan jeda Ramadan di Premier League menjadi contoh adaptasi kompetisi terhadap kebutuhan pemain. Dengan jadwal padat dan intensitas tinggi, kebijakan ini memberi ruang bagi pemain Muslim menjalankan ibadah tanpa meninggalkan tanggung jawab profesional.










