Israel Gagal Yakinkan Trump untuk Serang Iran, Negosiasi Nuklir Tetap Berlanjut

Israel Gagal Yakinkan Trump untuk Serang Iran, Negosiasi Nuklir Tetap Berlanjut

Terkini | inews | Minggu, 15 Februari 2026 - 08:03
share

TEHERAN, iNews.id - Upaya Israel mendorong Amerika Serikat (AS) mengambil opsi militer terhadap Iran disebut tidak membuahkan hasil. Presiden AS Donald Trump justru menegaskan komitmennya melanjutkan negosiasi nuklir dengan Teheran, meski mendapat tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Tuduhan tersebut disampaikan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani. Dia menilai Israel berupaya menyabotase perundingan nuklir Iran-AS agar berujung buntu sehingga membuka jalan bagi konflik baru di kawasan.

“Negosiasi kami eksklusif dengan Amerika Serikat. Kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel,” kata Larijani, dalam wawancara dengan Al Jazeera, dikutip Minggu (15/2/2026).

Menurut Larijani, negosiasi saat ini berada dalam tahap sensitif. Dia menyebut Israel menggunakan berbagai cara untuk memengaruhi Washington agar tidak melanjutkan dialog. Strategi itu, kata dia, bertujuan mengguncang stabilitas kawasan.

“Mereka tidak hanya bertaruh dengan Iran, tapi juga Qatar, Arab Saudi, dan Turki,” ujarnya, seraya mengingatkan para pemimpin Timur Tengah agar mencermati dinamika tersebut.

Larijani juga menyinggung serangan Israel ke Iran pada Juni 2025 yang terjadi saat Teheran dan Washington tengah menjalani beberapa putaran perundingan nuklir. Serangan itu membuat proses diplomasi terhenti.

Kini, di tengah pembahasan jadwal putaran kedua negosiasi Iran-AS, Netanyahu berkunjung ke AS untuk mendesak Trump mengambil sikap lebih keras terhadap Iran. Netanyahu disebut menyampaikan prinsip-prinsip yang menurutnya harus menjadi dasar negosiasi.

Namun setelah pertemuan tersebut, Trump menegaskan tidak ada keputusan pasti yang dihasilkan, selain tekadnya untuk tetap melanjutkan perundingan dengan Iran. 

Sikap itu dipandang Teheran sebagai tanda bahwa Israel gagal meyakinkan Washington untuk memilih jalur konfrontasi.

Topik Menarik